Artikel

Ketika Para Ibu-Ibu Antusias Ikuti Pelatihan Membuat Produk Olahan

Klojen (malangkota.go.id) – Praktik memfilet lele, membuat bakso, mi, dan juga prol tape merupakan kebahagiaan tersendiri bagi para peserta pelatihan pembuatan produk makanan olahan. Begitu antusiasnya mengikuti pelatihan, para peserta dengan sabar mengikuti setiap instruksi pada pelatihan yang gelar oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Malang di Hotel Pelangi Malang, Kamis (30/8).

Peserta mengikuti pelatihan dengan antusias

Instruktur pelatihan, Tri Winarni, mengatakan bisnis makanan olahan memang tidak pernah ada habisnya, termasuk untuk dikembangkan di Kota Malang. Jika bisa membaca pasar dengan baik, menurutnya tidak sulit bagi seseorang untuk bisa menangkap peluang untuk berwirausaha.

“Olahan makanan menjadi sektor yang paling menguntungkan. Pasarnya sangat luas, sebab setiap hari semua orang pasti butuh makanan,” terang Tri, Rabu (30/8).

Tri menambahkan, untuk bisa memenuhi selera pasar, dibutuhkan suatu kreativitas tersendiri agar apa yang dijual bisa memiliki nilai jual tinggi. Ia mencontohkan produk olahan singkong dengan berbagai bentuk. Mulai dari yang sederhana, yaitu menjadi singkong rebus, singkong goreng, ataupun yang  lebih rumit menjadi seperti cenil, ogol-ogol, maupun menjadi sirup.

Contoh produk makanan olahan lainnya adalah lele. Lele yang semula harganya per kilogram hanya sekitar 16 ribu rupiah, jika dikreasikan tentu akan memiliki nilai jual yang berlipat. Disampaikannya, lele tidak hanya bisa diolah menjadi lalapan saja, tetapi juga bisa menjadi abon lele, lele krispi, nuget lele dan lain sebagainya.

Pada kesempatan ini Tri mengajak semua peserta pelatihan untuk benar-benar mengikuti setiap sesi pelatihan dengan serius.

Salah satu peserta pelatihan, Kartini, mengakui membuat usaha di bidang kuliner memang sangat menyenangkan. Ia mengatakan bidang kuliner merupakan hobinya, sehingga mengerjakannya senang dan saat dapat hasilnya juga sangat bahagia.

“Kami beruntung bisa mengikuti pelatihan dari Dinas Koperasi dan UM ini. Dari sini kami banyak mendapat pengetahuan baru, untuk mengolah bahan baku menjadi bahan jadi yang memiliki nilai jual tinggi,” ucap Kartini antusias. (cah/yon)