Artikel

WBP Lapas Wanita Sukun Turut Pecahkan Rekor Dunia Tari Poco-Poco

Sukun (malangkota.go.id) – Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wanita Kelas IIA Sukun, Kota Malang turut berpartisipasi memecahkan rekor dunia Guinness World of Records Senam Poco-Poco, Minggu (05/08).

Warga Binaan Lapas Wanita Kelas IIA Sukun turut berpartisipasi memecahkan rekor dunia Tari Poco-Poco

Lapas Wanita Kelas IIA Sukun ini adalah satu dari 528 lapas di penjuru nusantara yang turut berpartisipasi memecahkan rekor dunia menari poco-poco. Pemecahan rekor ini sekaligus untuk mempertahankan dan menunjukkan kepada dunia bahwa tari poco-poco adalah tarian asli Indonesia.

Bagi warga binaan, menurut Plt Kepala Lapas Wanita Kelas IIA Sukun, Sudirman Zainudin, gelaran ini merupakan wujud kepedulian serta untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya.

Tari poco-poco yang nyaris punah dan diindikasi akan diklaim oleh negara lain akhirnya memicu Pemerintah Indonesia untuk menepis semua itu. Pemerintah pun menggelar tarian poco-poco untuk memecahkan rekor dunia Guinness World of Records yang dipusatkan di kawasan Tugu Monas Jakarta.

“Event akbar ini dilakukan serentak di berbagai daerah di Tanah Air termasuk di Lapas Kelas IIA Sukun. Melalui tarian yang diilhami dari lagu poco-poco dan diciptakan oleh pria asal Ambon, yaitu Arie Sapulette ini, juga menjadi sarana dan upaya pihak lapas untuk menanamkan cinta budaya,” urai Sudirman.

Ditambahkannya, bahwa wujud kepedulian terhadap budaya asli Indonesia ini salah satu penekanannya bagi warga negara asing yang menjadi warga binaan lapas. “Gelaran yang dimotori pemerintah pusat ini pun merupakan wujud dan bukti keseriusan Pemerintah Indonesia dalam melestarikan budaya bangsa yang harus dilanjutkan oleh generasi muda, sehingga tidak diklaim bangsa lain,” jelas Sudirman.

Lebih jauh dia menyampaikan, digelarnya berbagai even bersama seperti ini di lingkungan lapas, sekaligus untuk lebih menguatkan rasa persaudaraan antar penghuni lapas maupun dengan para petugas. “Selain itu, hal ini untuk menyiasati kelebihan kapasitas sehingga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di dalam lapas,” ungkap Sudirman.

“Melalui tarian poco-poco ini diharapkan warga lapas tahu jika budaya ini asli Indonesia, turut mencintai dan melestarikannya, agar seni budaya ini tidak mudah luntur dan tidak diklaim oleh bangsa lain. Di lain pihak, kebersamaan dan persaudaraan di lingkungan lapas dapat terus terjaga dengan baik dan lapas tetap kondusif,” pungkasnya. (say/yon)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content