Berita

Diikuti 2.929 Peserta, Kota Malang Pecahkan Rekor MURI Membaca Melalui Gawai

Klojen (malangkota.go.id) – Tingkat literasi (kemampuan menulis dan membaca) sebagian besar masyarakat hingga saat ini tergolong rendah, dan fenomena tersebut juga terjadi di Kota Malang.

Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji menerima piagam penghargaan MURI

Menyikapi hal tersebut, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Malang meluncurkan Perpustakaan Digital ‘Malang Ancen Mbois’ melalui aplikasi berlabel Malang Cillin (City Library Information) Digital Acces, Kamis (12/12/2019) di Balai Kota Malang.

Pada kesempatan ini sekaligus dilaksanakan pencatatan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) membaca dengan gawai diikuti oleh 2.929 peserta dan berhasil memecahkan rekor MURI.

“Disisi lain, upaya itu seiring kemajuan teknologi informasi atau era revolusi industri 4.0, serta mulai berubahnya gaya hidup masyarakat, khususnya dalam membaca guna memperoleh berbagai informasi. Konkretnya, kehadiran gawai hampir merubah semua gaya hidup, sehingga kehadiran aplikasi yang bisa diunduh di playstore ini akan menjawab kebutuhan masyarakat dalam memperoleh informasi,” urai Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji usai menerima plakat MURI.

Dalam aplikasi tersebut, pengunduh dapat belajar berbagai hal, terutama bagi kalangan pelajar untuk tambahan bahan belajarnya. “Karena lebih efektif dan efisien, maka setelah diluncurkan aplikasi ini minat baca masyarakat terus meningkat signifikan dari waktu ke waktu,” imbuhnya.

Seiring dengan hal tersebut, pria berkacamata itu menjelaskan bahwa buku merupakan jendela dunia dan barang siapa yang memiliki pengetahuan luas akan memegang peran besar dalam berbagai aspek kehidupan.

“Budaya membaca inipun harus diterapkan sejak dini, sehingga nantinya akan terlahir generasi masa depan yang cerdas, kreatif, inovatif dan berdaya saing,” sambung Sutiaji.

Membaca buku melalui gawai ini dicatat dalam rekor MURI dengan nomor urut 9.357. Sri Widayati, Eksekutif Manajer MURI, mengatakan bahwa rekor ini melampaui rekor sebelumnya yaitu edukasi literasi melalui gawai pada November 2018 di Bandung yang diikuti 1.140 peserta.

“Diberikannya penghargaan ini sesuai dengan tema yang diusung dalam acara tersebut yaitu Ikuti Zamanmu dan Jangan Tinggalkan Budayamu. Jadi seperti apapun kemajuan zaman, namun jangan sampai melupakan budaya, salah satunya bduaya membaca yang jangan sampai pudar atau hilang,” pesan Widayati. (say/yon)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content