Berita

Peralihan Musik Pop ke Musik Rock

Malang, (malangkota.go.id) – Perjalanan ‘sejarah’ blantika musik pop di Kota Malang cukup panjang, penuh liku dan mengesankan. Terutama dari aspek kegigihan berkreativitas para musisi dan pencipta lagu, dalam mencipta aransemen musik dan lagu, yang tentu saja tak luput dari berbagai tantangan.

Sang penulis buku, Arief Wibisono, S.Sos menunjukkan buku hasil karyanya

“Jatuh-bangunnya para musisi dan pencipta lagu adalah hal lumrah di setiap dekade, sebelum akhirnya mencapai puncak popularitasnya,” ujar Arief Wibisono, penulis buku Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90, Senin (10/5/2021).

Secara garis besar, mulai periode 60-an, boleh dikatakan sebagai masa transisi dari musik orkes (alat musik manual) ke peralatan musik elektronik, atau lazim disebut band. Band pengiring, pada era 60-an, di blantika musik pop Kota Malang bermunculanlah sejumlah band pengiring seperti Band Eka Dasa Taruna, Avias, Tornado yang banyak berjasa dalam sejarah kebangkitan musik pop Kota Malang di era 60-70-an.

Band Bentoel spesialis menjadi band pengiring di perusahaan rokoknya dalam merekam lagu-lagu artis penyanyi solo sejak 1969-1972. Bentoel Band banyak mengiringi artis-artis tenar seperti Henny Poerwonegoro, Emilia Contessa dan banyak penyanyi lain era itu dan sempat tampil di Jakarta Fair Tahun 1972.

Di samping itu, Band Bentoel juga sempat merilis beberapa album. Saat itu Band Bentoel sudah masuk daftar band profesional, kreatif yang produktif pada saat itu. Sampai tahun 1975 dengan formasi terakhirnya sempat mengorbitkan vokalis rock Mickey Michaelbarch atau lebih dikenal dengan Micky Jaguar soalnya sebelum di Band Bentoel sempat gabung dengan Band Jaguar.

“Pada akhirnya ia merasa tidak sesuai lagi dengan konsep bermusik seperti ini. Micky Jaguar memutuskan bergabung band baru yang bernama Ogle Eyes yang sama-sama milik perusahaan rokok di Kota Malang,” bebernya.

Band panggung, sejak era Koes Plus, jenis music rock sebenarnya sudah diperkenalkan secara tidak langsung. Istilah musik Ngik Ngok yang dikecam oleh Soekarno yang kemudian diadaptasi oleh Koes Plus adalah cikal bakal musik rock di Indonesia.

Lagu Kelelawar Koes Plus misalnya, diyakini sebagai mulainya era musik rock atau kemudian dikenal di Indonesia dengan nama musik cadas. Memasuki era 70-an, seiring dengan keterbukaan segala informasi, mulailah bermunculan sejumlah band yang mengusung musik rock.

“Beberapa anak muda kemudian mengadaptasi kebudayaan barat. Kebetulan, perkembangan musik rock di Eropa dan Amerika pun sedang berkembang pesat. Led Zeppelin, band asal Inggris, membuat masyarakat terkaget-kaget karena mampu mempopulerkan raungan gitar yang meraung-raung,” papar Arief Wibisono.

Ditambah lagi dengan band asal Inggris, Deep Purple. Kedua band ini dianggap sebagai cikal bakal jenis musik baru yaitu Heavy Metal. Demikian juga dengan Yes, Genesis, Pink Floyd. Mereka membuat musik rock tidak hanya sekedar bising di telinga, namun memadukannya dalam sebuah harmoni musik yang indah. Muncul lagi istilah Art Rock atau lebih dikenal dengan istilah progresif rock.

Perkembangan musik rock di barat (dalam hal ini Amerika dan Eropa) berimbas juga ke Indonesia. Bak jamur yang tumbuh di musim hujan, band-band pun bermunculan. Gaya para musisi rock di luar diadaptasi oleh para anak-anak muda tersebut. Rambut gondrong, celana cutbrai, celana kulit, baju ketat, lusuh menjadi identitas anak-anak muda di Indonesia saat itu.

Tak lupa juga band Kota Malang pada waktu itu, mereka pun menamakan band-band mereka dengan nama-nama barat. Ogle Eyes, Bad Session, Darknes, Q Red, Greates, Arfack, Avia Nada, Elviera. Mereka inilah yang dianggap sebagai generasi pertama pemusik cadas Kota Malang yang penuh bakat dan inovatif. Bersamaan juga saat itu muncul Majalah Aktuil, yang memang mengkhususkan diri sebagai majalah musik dan gaya hidup.

Aksi panggung memegang peranan yang penting bagi kesuksesan pementasan musik rock di era tahun 1970-an. Saat itu, gaya panggung musik rock di Indonesia meniru habis band-band terkenal. Meskipun secara musikal suatu band tergolong berhasil dalam pementasan, tetapi jika tak didukung aksi panggung yang memadai maka band tersebut akan dinilai “culun” alias kampungan.

“Semakin hebat penampilan mereka di panggung, maka band ini akan semakin dikenal oleh publik seperti aksi vokalis Elviera Yudit Bowloz dengan membawa ular di atas panggung, Micky Jaguar dengan meminum darah waktu show di Gelora Pancasila Surabaya berimbas dengan dihentikannya pementasan saat itu,” sambungnya.

Salah satu hal mendasar dari penampilan di panggung adalah ekspresi wajah. Para personel band harus dapat menggambarkan keadaan tema serta karakteristik lagu. Melalui aksi panggung yang “nakal’ misalnya akan dapat menutupi kesalahan-kesalahan atau kekurangan yang terjadi dalam penyajian musiknya. Aksi sensasi di panggung merupakan salah satu hal yang penting dalam pertunjukan musik rock.

Terkadang dapat mendongkrak popularitas dari pemusik itu sendiri. Sebagai sebuah bentuk seni pertunjukan, pertunjukan musik rock memiliki gaya aksi tersendiri. Kebebasan dalam bermain musik yang bercorak keras terlihat ”menabrak” batasan-batasan umum, baik musik, lagu maupun gaya pertunjukannya.

Aksi panggung para kugiran (grup) musik rock dekade 1970-an umumnya cenderung bersifat teatrikal. Terkadang mereka juga menyuguhkan aksi panggung bakar-bakaran gitar seperti yang dilakukan gitaris Deep Purple, Ricthie Blackmore dan Jimmy Hendrix.

“Jadi dalam suatu pertunjukan musik, para personel band ini tidak hanya menyuguhkan kepiawaian dalam bermusik saja, tetapi juga menampilkan aksi panggung yang sejalan dengan aliran musiknya,” tutupnya. (Arief Wibisono/say/ram)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content