Kisah Sembuh Penyintas Covid-19 dari Kota Malang

Kisah Sembuh Penyintas Covid-19 dari Kota Malang

Malang (malangkota.go.id) – Pandemi Covid-19 telah membuat bangsa Indonesia kesulitan dalam berbagai hal, termasuk kesehatan dan perekonomian. Namun demikian, di tengah kondisi sulit warga Kota Malang rela berbagi dan peduli terhadap warga yang sedang isolasi mandiri (isoman) akibat terinfeksi Covid-19.

Warga Kota Malang bahkan sampai membuat dapur umum untuk membantu kebutuhan gizi warga yang sedang isoman agar segera pulih dari Covid-19. Selain itu, berbagai bantuan juga dikucurkan pemerintah dan corporate social responsibility (CSR) pihak swasta untuk membantu penanganan pandemi ini.

Menurut pengakuan penyintas positif Covid-19, warga Kelurahan Bakalan Krajan Harto Sutiyo, mengatakan dirinya saat melakukan isoman berjuang dengan menguatkan imun dan iman. “Awalnya anak saya yang terpapar Covid-19, kemudian istri saya dan saya pun ikut terpapar. Akhirnya kami melakukan isoman,” ujar Harto Sutiyo, Jumat (23/7/2021).

Selama menjalani isolasi mandiri, kata dia, dirinya selalu mengonsumsi obat dari dokter dan obat herbal dari empon-empon atau rempah-rempah dan madu. Harto Sutiyo mencoba mengatasi napas yang sesak dan tidak bisa mencium aroma dengan menghirup minyak kayu putih dan minyak angin. Selain itu, dia juga rutin berjemur pada pukul 09.00-10.30 WIB.

Selama isoman, Harto Sutiyo selalu makan secara teratur dan cukup. Meskipun rasa malas untuk makan, namun dirinya selalu memaksakan diri agar makanan bisa masuk ke lambung. Dengan cara itu, maka imun akan meningkat. Jika imun naik, maka proses kesembuhan sudah semakin dekat. Pikiran juga tidak boleh terlalu stres, ia mengimbau agar selalu berdoa dan berpikir positif untuk sembuh.

“Setelah menjalani isoman, Alhamdulillah saat ini saya sudah fit dan negatif Covid-19. Semoga kita semua dikasih kesehatan, panjang umur, dan terhindar dari segala penyakit. Selalu berdoa kepada Tuhan, semoga Tuhan selalu melindungi kita,” pungkasnya.

Sekretaris Lurah Bandulan Mutho’ Shobiri, S.STP, M. AP

Penyintas Covid-19 Sekretaris Lurah Bandulan Mutho’ Shobiri, S.STP, M. AP mengatakan, saat dirinya terpapar Covid-19 dan menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Malang, ia meningkatkan daya tahan tubuhnya dengan mengonsumsi vitamin dan meminum obat dari dokter.

“Saya menerapkan pola hidup sehat serta makan makanan yang bergizi. Walaupun pada waktu itu indra perasa dan penciuman saya hilang, saya juga berjemur di pagi hari,” ceritanya.

Pesan positif yang ingin ia sampaikan adalah agar orang yang saat ini sedang berjuang melawan Covid-19 tetap semangat dan optimis. Mutho’ Shobiri mengimbau untuk tetap mematuhi protokol kesehatan serta selalu berdoa kepada Tuhan agar tetap diberi kesehatan dan kesembuhan. Setelah berjuang melawan Covid-19, saat ini ia telah dinyatakan sembuh atau negatif Covid-19 dan kembali beraktivitas.

Erwin Mulyo warga Kelurahan Dinoyo

Penyintas Covid-19 berikutnya warga Kelurahan Dinoyo, Erwin Mulyo berbagi pengalamannya. Menurut Erwin, salah satu obat Covid-19 adalah diri sendiri. Karena yang sangat perlu dilakukan adalah menjaga semangat diri sendiri untuk berjuang melawan Covid-19. Jika ada pasien Covid-19 yang mulai tidak semangat, maka tugas yang lainnya memberi semangat. Artinya sama-sama saling menguatkan dan menyemangati.

“Tetap semangat dan tetap berikhtiar serta berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kesembuhan dan keselamatan. Bagi yang dirawat di rumah sakit tetap berjuang dan semangat sembuh. Karena obat dari Covid-19 salah satunya dari diri kita sendiri. Mari selalu menerapkan protokol kesehatan,” ungkap Erwin Mulyo.

Erwin Mulyo menambahkan, para tenaga kesehatan yang menjalankan tugas di garda terdepan selama pandemi ini juga selalu memberikan semangat. Hal itu dilakukannya untuk memulihkan kondisi pasien Covid-19 agar segera pulih. “Menjaga pikiran tetap positif menjadi hal yang penting dalam proses sembuh dari Covid-19. Karena pikiran akan memengaruhi kondisi mental dan psikis, sehingga naik atau turunnya imun tergantung dari pikiran,” sambungnya.

Dalam hal penanganan trauma healing bagi pasien Covid-19, Forkopimda Kota Malang membuat program Satgas Malang Raya Trauma Healing (Sama Ramah) yang diresmikan oleh Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji beberapa waktu lalu. Selain itu, Pemkot Malang sedang bergerak cepat mendistribusikan bantuan serta percepatan vaksinasi.

Wali Kota Sutiaji juga selalu memberikan semangat dengan menyambangi warga yang melakukan isoman. Dia datang dengan membawa bantuan dan memberikan motivasi agar warga yang terinfeksi Covid-19 segera sehat dan negatif dari Covid-19. Sutiaji juga mengimbau kepada warga yang isoman agar selalu menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.

“Sambang ini menjadi salah satu upaya penyembuhan trauma (trauma healing) bagi penderita Covid-19. Pengalaman saya pribadi saat menjalani isoman memiliki muatan emosi yang masuk ke memori dan dapat meninggalkan dampak psikologis, apalagi jika yang mengalami anak-anak,” imbuh Wali Kota Sutiaji.

Sutiaji juga meninjau dan memberikan trauma healing kepada anak-anak yang isoman tanpa orang tua di Perumahan Puskopad, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kamis (15/7/2021) lalu. “Ayo, nak, semangat! Supaya cepat sehat,” ujar Sutiaji.

Sementara itu, Sutiaji juga memberikan apresiasi positif atas kepedulian dan tindakan masyarakat dalam membantu warga isoman. Di mana para warga saat ini rajin memberikan bantuan makanan siap saji kepada warga isoman. “Hal ini timbul dan tumbuh dari masyarakat sendiri, inilah yang nilai kegotongroyongan yang tinggi. Memang dalam masa Covid-19 ini harus gotong royong,” tutupnya. (eka/ram)

Macroscope, Bisnis Apparel Empat Pemuda Kota Malang

Macroscope, Bisnis Apparel Empat Pemuda Kota Malang

Malang, (malangkota.go.id) – Perkembangan industri fesyen di Kota Malang, Jawa Timur bisa dibilang pesat dalam beberapa waktu terakhir ini. Pelaku industri apparel/clothing terus bermunculan di bumi Arema ini. Wajar Kota Malang menjadi surga bagi para penggila fesyen.

Salah satu UMKM di Kota Malang yang memproduksi apparel adalah Macroscope. Tak disangka bisnis ini dirintis oleh orang muda sebagai solusi dari permasalahan mencari apparel dari siswa-siswi SMPN 3 Malang. Macroscope yang beralamat di Jalan Kunta Bhaswara II No. 6, Blimbing, Kota Malang didirikan sejak 17 Desember 2016.

Macroscope menyediakan produk pakaian jadi seperti kemeja yang dibanderol mulai Rp99.000,00, kaos mulai Rp59.000,00, dan layanan konveksi dengan harga mulai dari Rp45.000,00. Produk-produk Macroscope sangat berkualitas.

“Setiap bahan Macroscope menggunakan Scope Max Technology yang terjamin lembut, anti panas, anti kusut/melar, dan awet. Produk Macroscope juga memiliki corak desain yang menyegarkan. Cocok untuk dipakai kawula muda. Sesuai dengan slogannya #FreshLookFreshConfident,” ujar Osman, salah satu pendiri Macroscope.

Osman menambahkan bahwa produk unggulan dari Macroscope adalah kemeja series twotone shirt. Berkat jerih payahnya memproduksi pakaian berkualitas, Macroscope telah berhasil merambah pasar nasional bahkan internasional. Macroscape berhasil mengekspor produk ke beberapa negara Asean, seperti Thailand dan Singapura.

Bisnis apparel yang didirikan oleh empat sahabat, Osman Nur Chaidir, Dary Ramadhan Fajar, Bramantyo Diandra Lastiko, dan Refano Trinanda Saputra ini punya alasan tersendiri memilih merek yang dipakai.

“Macro berarti besar, luas. Scope berarti cakupan. Diharapkan macroscope dapat berkembang menjadi usaha yang besar, luas cakupan bisnisnya nantinya,” papar Osman.

“Jika mau pesan bisa mengunjungi website www.macroscope.id, #HaloMacroscope di WA, @HaloMacroscope_bot di Telegram, ataupun melalui email info@macroscope.id, dan Instagram @macroscope.id,” ujarnya. (ari/ram)

Pelaku Usaha Kuliner Ini Punya Cara Beda Nikmati Ikan Lele

Pelaku Usaha Kuliner Ini Punya Cara Beda Nikmati Ikan Lele

Malang (malangkota.go.id) – Kreativitas para pelaku usaha kuliner di Kota Malang semakin hari semakin kreatif. Salah satunya adalah Tutik Eksawati mengolah ikan lele dengan olahan krispi yang tanpa duri. Bisanya, ikan lele hanya ditemui dengan bumbu kuning dan digoreng.

Lele Krispi tanpa duri produk UMKM Kota Malang

 

“Saya memulai usaha ini sejak 2017. Produk saya beda dari yg lain karena produk saya ada lele krispi tanpa duri, yang bikin aman cara makan ikan tanpa tersangkut durinya,” ujar Tutik yang beralamat di Jalan Kolonel Sugiono Gg. 5/52 RT 12 RW 3 Mergosono, Kota Malang, Rabu (7/7/2021).

Tutik menambahkan bahwa, dirinya tidak hanya memproduksi lele krispi saja, namun ada buntil yaitu olahan sayur khas Jawa. Tutik juga membuat aneka macam minuman tradisional (jamu) dengan berbagai khasiat. Beberapa jamu yang diproduksinya adalah jamu beras kencur, kunir madu asem, sinom, temulawak, dan daun sirsat.

aneka macam minuman tradisional (jamu) dengan berbagai khasiat produk UMKM Kota Malang

Untuk harga produk bervariasi, olahan ikan lele dijual mulai Rp10.000,00. Sedangkan untuk jamu dengan botol besar 1.500 ml Rp25.000,00, botol tanggung 600 ml Rp17.000,00, dan botol kecil 250 ml Rp6.000,00.

“Produk saya cukup disukai oleh masyarakat. Langganan se-Malang Raya, sampai luar daerah. Kalau pas ke Malang mereka mampir ke rumah langsung borong semua produk saya,” ujarnya.

Sayangnya, pandemi Covid-19 ini berpengaruh juga pada penjualan produk-produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang diberi nama Eksawati ini. Sebelum pandemi, usahanya maju dan memiliki omzet banyak.

“Jadi saya tidak kuwalahan untuk bayar cicilan bank. Tapi setelah pandemi, omzet langsung menurun drastis, biasanya ikan lele per bulannya habis 10-30 kg. Sekarang tidak sampai 1 kg,” ungkapTutik.

Jika Anda menyukai produk ini, bisa pesan di nomor telepon 089683775645 atau bisa juga melalui Facebook Tutik Eksawati. (ari/ram)

Tak Perlu Ulek Sendiri, Kini Bikin Pecel Cukup Beli Bumbu Jadi

Tak Perlu Ulek Sendiri, Kini Bikin Pecel Cukup Beli Bumbu Jadi

Malang (malangkota.go.id) – Bisa dibilang nasi pecel adalah salah satu makanan khas sekaligus populer di Jawa Timur. Saking populernya, sangat mudah menemukan warung nasi pecel di setiap daerah Jatim, khususnya di Kota Malang.

Olahan bumbu pecel, bumbu rujak dan wedang uwuh  AREDO UMKM Kota Malang

Nasi pecel yang sangat cocok untuk sarapan pagi ini sangat digemari oleh berbagai kalangan, baik masyarakat lokal Jatim ataupun dari luar daerah. Jika Anda ingin membawa cita rasa pecel sebagai oleh-oleh juga bisa. Ya, Anda bisa membeli bumbu pecel yang banyak dijual di pasaran.

Banyak sekali merk bumbu pecel yang ada di Kota Malang, dari yang diproduksi rumahan hingga pabrik. Satu yang menarik adalah Sambal Pecel Ndeso AREDO. Sambal pecel satu ini berbeda dengan yang biasa ditemui di warung pinggir jalan.

“Biasanya varian sambal pecel hanya dari tingkat kepedasannya. Tetapi sambal pecel AREDO ada berbagai varian, yaitu original, rasa jeruk purut, rasa kencur, dan rasa udang gremut dengan tiga level kepedasan,” ujar Fevy, pemilik UMKM ini.

Untuk harga, kata Fevy, sambal pecel dengan kemasan mangkok plastik dijual Rp30.000,00 dan kemasan besek Rp33.000,00 masing-masing beratnya 350 gram. UMKM yang berdiri sejak tahun 2016 ini, ternyata tidak hanya memproduksi sambal pecel. Usaha rumahan ini juga memproduksi bumbu rujak manis dalam kemasan botol seberat 250 gram.

“Kami juga menyediakan bumbu rujak manis dengan tiga level kepedasan, yaitu tidak pedas, sedang, dan pedas. Bumbu rujak manis dipasarkan Rp15.000,00,” ujarnya.

UMKM yang beralamat di Jalan Kolonel Sugiono Gg 1A/36, Mergosono, Kedungkandang ini juga memproduksi wedang rempah (uwuh). Minuman tradisional yang menyehatkan ini terdiri dari berbagai bahan, seperti kayu secang, keningar, jahe, kapulaga, cengkeh, sereh, pandan, dan gula batu. Wedang uwuh dengan berat sekitar 42 gram ini dikemas dalam pouch dan botol yang dijual masing-masing Rp13.000,00 dan Rp15.000,00.

“Biasanya kalau orang memesan bumbu pecel, rujak manis, dan wedang uwuh bisa menghubingi kami melalui telepon 085101587332. Kami juga punya Facebook Fevy Eka Fiana dan Instagram @pecelaredo,” tutupnya. (ari/ram)

Asa Melukis Senja di Balik Wajah Optimis Petani Perkotaan

Asa Melukis Senja di Balik Wajah Optimis Petani Perkotaan

Malang (malangkota.go.id) – Orang-orang di sekitar wilayahnya mengenal ‘Pak Rahmat’. Dia tergelak, tulus, memamerkan beberapa pasang gigi yang tersisa dan kumis serta jenggot yang telah memutih, ketika mengingat kisah cintanya dengan kembang desa yang kemudian menjadi pendamping setianya bertani sekaligus ibu dari ketiga anaknya.

Pak Rahmat, Petani di Tasikmadu

 

Di usianya yang sudah menapaki akhir 60-an tahun, fisiknya masih terlihat sehat walau keriput di wajahnya tak bisa disembunyikan. Barangkali memang tak pernah disembunyikan dengan beragam krim anti aging dan bermacam perawatannya. Hamparan padi yang menguning dan sedang dipanen oleh beberapa pekerja itulah obat awet mudanya.

Sudah 20 tahun lebih, Pak Mat, demikian ia akrab disapa, mengolah lahan seluas kurang lebih empat hektar miliknya di Tasikmadu. Sebuah kelurahan yang terus berkembang sebagai salah satu area peri-urban di sudut utara Kota Malang. Pengalamannya yang luas menjadikannya didapuk sebagai Ketua Kelompok Tani Sri Setia Kawan.

“Winginane niku kresek, lintune nggih manuk kalih tikus (kemarin itu ada serangan penyakit ‘kresek.’ Lainnya ya hama burung dan tikus),” kata Pak Mat mengungkapkan salah satu kendala utama yang dihadapinya saat ini, Sabtu (19/6/2021).

Soal alat pertanian tidak menjadi masalah, karena menurutnya bantuan Pemerintah Kota Malang sering hadir. Masalah lain menurutnya adalah faktor kesulitan mencari pekerja tani, terutama anak muda dan ‘godaan’ menjual lahan pertanian. Sehingga petani beralih profesi dan sawah beralih fungsi.

“Nggih kathah ingkang tanglet (ya memang banyak yang menanyakan),” ungkap Pak Mat tentang godaan dari beberapa pengembang yang sempat ingin membeli sawahnya dengan iming-iming kompensasi finansial dalam jumlah cukup besar.

Harga lahan di sekitar sawahnya memang sudah menyentuh Rp3-4 juta per meter persegi. Sampai detik ini, kecintaannya pada pertanian masih meneguhkan hatinya untuk berkata tidak. Tapi ia tak memungkiri, di usianya yang menatap senja, masa depan sawahnya adalah sesuatu yang tak bisa ia perkirakan.

Penuturan Pak Mat adalah secuil kisah tentang dinamika petani dan pertanian di kawasan perkotaan yang harus berhadapan. Tidak hanya dengan urbanisasi yang memicu kepadatan dan permintaan pasar hunian. Namun juga kecenderungan orientasi pada sektor ekonomi sekunder dan tersier.

Hasil kajian mengindikasikan sejumlah faktor penyebab alih fungsi lahan pertanian di Jawa Timur meliputi tiga faktor, yakni produksi, pendapatan, dan demografi (Firmansyah, 2021). Sebagai refleksi bersama, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang tiga tahun silam menunjuk angka luas lahan sawah mencapai 1.104 ha, sementara pada akhir tahun 2020 turun menjadi 995 ha.

Walaupun demikian, tidak semua indikasi memudarkan harapan. Melalui kerja keras dan kerja cerdas berbagai pemangku kepentingan, produktivitas padi Kota Malang secara komparatif menyentuh angka tertinggi se-Jawa Timur pada tahun 2019, yakni mencapai 68,88 kw/ha.

“Dukungan alat produksi pertanian (alsintan), ketersediaan jaringan irigasi teknis dan kontinuitas air yang disediakannya, pemilihan varietas padi yang tepat, hingga komunikasi yang harmonis antarpemangku kepentingan menjadi beberapa kiat kesuksesan,” tutur Pak Mat.

Pada tataran kebijakan daerah, Pemerintah Kota Malang terus berupaya menjaga pertanian dan ketahanan pangan. Di antaranya dengan Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dalam Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Detil Tata Ruang dan Peraturan Zonasi (RDTR dan PZ) dan penyiapan rancangan peraturan daerah (Ranperda) yang secara spesifik akan mengatur perlindungan lahan pertanian sebagai turunan dari Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Hingga kini sebanyak 23,49 ha telah ditetapkan dan saat ini sedang dibahas bersama upaya memperluas cakupan perlindungan tersebut. Fokus utama adalah upaya penguatan pengendalian yang melibatkan tim terpadu lintas kementerian/perangkat daerah sebagaimana spirit Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2019 tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah (AFLS).

Di sisi lain, peran serta PKK, Bank Indonesia, serta geliat urban farming yang makin bangkit di tengah ruang-ruang sempit Kota Malang. Hal itu seiring menguatnya kesadaran pentingnya asupan gizi di masa pandemi, adalah sebuah modal sosial penting bagi pertanian yang acapkali terpinggirkan.

Inovasi memang kata kunci di era disrupsi. Karenanya, pembelajaran kisah sukses dari sejumlah daerah tentang ‘tumpang sari’ pertanian dengan pariwisata, bahkan jasa kuliner pun menjadi referensi bagi pelaku pertanian di Kota Malang. Melimpahnya jurusan pertanian di berbagai kampus di Kota Malang menumbuhkan optimisme tersendiri, bahwa akan ada aliran inovasi teknologi sekaligus sumber daya manusia, anak-anak muda dengan bahu segar untuk bersandar, soko guru ketahanan pangan bangsa, bahkan di perkotaan sekalipun.

Bagi Pak Mat, sandaran bahunya adalah Surya. Anak keduanya yang sejak lulus sekolah kejuruan hingga turut membantunya bertani menjadi harapan terbesarnya untuk menjaga kelestarian pertaniannya. Sehingga asa menjaga trah petani keluarganya tetap berlanjut dengan goresan kisah baru. Tentang semilir angin di gubuk tengah sawah dan tentang hijaunya Indonesia yang maju, mandiri dan berdaulat pangan. (ndu/ram)

Kenalkan Musisi Nusantara Pecinta Alam di Lobby Balai Kota Malang

Kenalkan Musisi Nusantara Pecinta Alam di Lobby Balai Kota Malang

Malang (malangkota.go.id) – Kolaborasi Pemkot Malang dan Museum Musik Indonesia (MMI) dengan didukung Perumda Air Minum Tugu Tirta Kota Malang terus berlanjut. Kali ini mengusung tema Hari Lingkungan Hidup, MMI menampilkan para musisi Indonesia yang getol menyuarakan pesan alam dan lingkungan.

“Di antaranya Ully Sigar Rusadi, Gombloh, The Rollies, Iwan Fals, The Gembells, Rita Ruby Hartland, Koes Plus, Frankie and Jane, Deddy Stanzah dan Tina Silvana yang arek Malang,” ujar Hengki Herwanto, Ketua MMI Kota Malang.

Berpusat di lobby Balai Kota Malang, seperti putaran-putaran sebelumnya, menampilkan catatan perjalanan musisi tanah air menyesuaikan tema yang diusung. Wali Kota Malang, Drs. H. Sutiaji merespons positif dan mewadahi sekaligus memberi penajaman, bahwa lobby bak etalase. Sebab, gedung balai kota memang banyak kunjungan sehingga bisa diposisikan sebagai wahana dan duta infografis maupun informasi tentang ragam isu.

“Ini menurut saya bagus, mengawinkan antara literasi musisi nusantara dengan isu-isu kekinian,” ujar Sutiaji.

Inilah potret musisi yang ditampilkan dalam kolaborasi Pemkot Malang dan MMI di Balai Kota Malang.

Ully Sigar Rusady

Rulany Indra Gartika Wirahaditenaya adalah nama asli dari musisi dan aktivis lingkungan hidup kelahiran Garut, 4 Januari 1952. Sebuah lagu ciptaannya berjudul Harmoni Kehidupan terpilih menjadi Duta Indonesia ke Festival Pop Singer di Jepang tahun 1978.

Iwan Fals

Virgiawan Listanto lahir di Jakarta 3 September 1961, terkenal dengan nama panggungnya Iwan Fals adalah seorang penyanyi, musisi, pencipta lagu, dan kritikus yang menjadi salah satu legenda di Indonesia.

Tina Silvana

Tina Silvana adalah penyanyi asal Kota Malang yang bersuara khas dan unik. Debutnya mencuat setelah melahirkan album pertamanya berjudul “Di Bukit Panderman” (sebuah bukit yang elok di kaki Gunung Kawi Kota Batu yang biasa didaki oleh para pendaki gunung tingkat pemula) yang dirilis oleh Duba Record. Namun saying setelah album perdana tersebut kemudian menghilang dan beliau sekarang berdomisili di Kota Rennes – Perancis

Franky & Jane

Franky Hubert Sahilatua & Jean Mauren Sahilatua atau biasa di kenal dengan nama Franky & Jane, meski irama musik country sangat terasa dalam karya mereka, tapi jiwa musik yang mereka bawakan mengandung atmosfer budaya indonesia.Kelebihan Franky & Jane terlihat pada penulisan lirik mereka yang naratif dengan tema pemujaan akan alam. Tema tentang alam ini bias didengarkan dari salah satu lagu mereka yang berjudul “Kepada Angin dan Burung Burung”.

 

The Rollies

The Rollies adalah sebuah grup musik jazz rock, pop, soul funk asal Bandung yang dibentuk pada tahun 1967. Sebagai musisi, The Rollies telah berhasil menorehkan tinta emas saat lagu Kemarau ditetapkan menerima penghargaan Kalpataru di tahun 1979.

Ritta Rubby Hartland

Ritta Rubby Hartland adalah seorang penyanyi country Indonesia yang terkenal di era 80-an. Lahir di Bandung, 13 April 1960. Sudah banyak album yang telah dirilisnya antara lain: Kepada Alam dan Penciptanya, Suara Kecil Dari Panti Asuhan, Nyanyian Sawah, dan masih banyak lagi yang semua lagu-lagu dan liriknya bertemakan tentang alam, sosial dan lingkungan hidup.

 

Koes Plus

Band legendaries Koes Plus telah membuat sebuah danau bernama Kolam Susuk semakin dikenal banyak orang melalui sebuah lagu. Kolam Susu, atau aslinya bernama Kolam Susuk benar-benar ada, yakni di Belu, Nusa Tenggara Timur. Melihat keindahan yang alami dan keunikan kolam tersebut, salah satu personelnya Yon Koeswoyo terkesima. Ia kemudian mengabadikan kolam tersebut dalam lagu berjudul “Kolam Susu”

The Gembell’s

The Gembells merupakan grup music asal Surabaya yang berdiri pada akhir 1960an. Nama TheGembells merupakan akronim dari kata GemarBelajar. Mereka mulai merekam album pertama yang berjudul “Pahlawan yang Dilupakan” pada 1971. Balada Kalimas sendiri direkam pada tahun 1972. Kalimas merupakan nama sungai yang melintas di tengah kota Surabaya. Sungai ini memiliki banyak fungsi bagi kehidupan masyarakat. Karya lagu-lagu The Gembells banyak yang bertema tentang kritik sosial, dan salah satu judul lagu Peristiwa Kaki Lima yang dicekal oleh pemerintah pada saat itu.

Gombloh

Gombloh adalah pencipta lagu balada sejati. Berita Cuaca adalah album dari Gombloh bersama Lemon Tree’s Anno ’69. Album ini dirilis dalam format kaset oleh Indra Record pada tahun 1982. Lagu Lestari Alamku (Berita Cuaca) adalah sebuah maha karya dari almarhum Gombloh yang mengingatkan bahwa kita harus menjaga dan merawat kembali kelestarian alam di negeri tercinta kita ini.

Deddy Stanzah

Melalui lagu “Sepercik Air”, Deddy Stanzah mengucapkan salam bagi dunia. Begitu penggalan lirik lagu karya Iman A Bharata dalam album “10 Pencipta Lagu Remaja” yang dirilis Prambors dan menjadi hit tahun 1979. Deddy lalu diundang ke Malang oleh mahasiswa Fak. Hukum UB untuk manggung di GOR Pulosari Malang. Tahun 1973 dia tampil di GOR Tenun bersama The Rollies seperti terlihat dalam foto (wit/ram)