Hari Kedua Lebaran, 123 Mobil Diputar Balik di Exit Tol Madyopuro

Hari Kedua Lebaran, 123 Mobil Diputar Balik di Exit Tol Madyopuro

Malang (malangkota.go.id) – Selama penerapan kebijakan larangan mudik, Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji menginstruksikan kepada jajarannya untuk terus memonitor perkembangan hingga tingkat RT dan RW.

“Tetap saya tekankan, untuk deteksi kemungkinan pendatang yang mungkin bisa lolos dari penyekatan pada pintu-pintu utama. Meski sepintas semua masih flat, tapi dari pengamatan kondisi jalan selama dua hari relatif tidak padat (lengang). Maka ada beberapa kemungkinan, bisa jadi warga banyak yang tidak kemana-mana hanya di rumah saja atau bisa pula warga kota yang sempat keluar Kota Malang,” jelas Sutiaji.

Terkait penyekatan, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Heru Mulyono, SIP, MT menginformasikan bahwa petugas gabungan penyekatan telah memutar balik 123 mobil yang akan masuk Kota Malang melalui pintu exit Tol Madyopuro pada hari kedua Lebaran Idulfitri 1442 Hijriah, Jumat (14/5/2021).

“Itu dari penjagaan sif 1 yang dilakukan mulai pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 23.00 WIB oleh petugas gabungan dari unsur Pemkot Malang, Polresta Malang Kota dan Kodim 0833 Malang Kota,” terang Heru.

Pria yang pernah menjabat sebagai Camat Klojen ini juga mengutarakan bahwa penyekatan juga tetap diikuti dengan pemeriksaan suhu tubuh dan juga rapid antigen.

Heru mengungkapkan, di hari pertama Lebaran, Kamis (13/5/2021), di titik yang sama hanya lima unit mobil yang diputar balik.

“Bisa jadi kenapa hari di kedua banyak kendaraan diputar balik, mungkin banyak yang coba-coba,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr. Husnul Muarif menyampaikan selama dua hari Lebaran 2021 ini tercatat ada penambahan kasus positif Covid-19 sebanyak 18 kasus dan 19 orang dinyatakan sembuh.

“Itu semua belum menjadi indikasi atau dampak dari liburan atau mudik Lebaran. Karena itu adalah tracing atas kasus kasus sebelumnya,” ucapnya.

Ditambahkannya, hingga Jumat (14/5/2021) jumlah kasus positif yang dalam pantauan untuk Kota Malang sebanyak 21 orang. (ndu/yon)

Kota Malang Waspada Kamtibmas dan Terorisme

Kota Malang Waspada Kamtibmas dan Terorisme

Malang, (malangkota.go.id) – Sebagaimana daerah lain, saat perayaan Hari Raya Idulfitri 1442 Hijriah kali ini Forkopimda Kota Malang melarang adanya takbir keliling serta pembatasan pelaksanaan salat Idulfitri. Meski salat Idulfitri diperbolehkan, namun harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Sedangkan bagi pihak-pihak yang nekat menggelar takbir keliling, terutama yang menggunakan kendaraan bak terbuka akan dihalau ke daerah asal.

Jajaran Forkopimda Kota Malang foto bersama usai apel pengamanan Idulfitri di halaman Balai Kota Malang

Demikian yang disampaikan Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata usai memimpin apel akbar dalam rangka pengamanan Hari Raya Idulfitri di halaman Balai Kota Malang, Rabu (12/05/2021). Pihaknya pun telah mengantisipasi berbagai gangguan dan atau ancaman kamtibmas lain, seperti pencurian dengan pemberatan dan pencurian sepeda motor.

Mobil yang masuk ke dalam kota, terutama mobil box terang dia, akan diperiksa di pos pengamanan yang ada di tiap perbatasan. Ancaman terorisme pun tak luput dari perhatian petugas, sehingga tak kurang dari 300 personil TNI-Polri ditambah pengamanan swadaya masyrakaat disebar ke sejumlah titik yang dianggap rawan.

Petugas berseragam dan tak berseragam dan bersenjata lengkap, pasalnya juga akan di tempatkan di beberapa titik vital dan yang mungkin luput dari perhatian masyarakat. Selain itu, ambulans dan mobil rantis atau anti huru-hara juga disebar di beberapa tempat.

“Kami nanti akan laksanakan patroli skala besar dari denpom, dari kodim, dari polres, dari satuan brimob dan juga dari Satpol PP. Kita perlu mewaspadai terutama adalah tindak pidana terorisme, karena kemarin terjadi di Poso. Jadi artinya ancaman teror ini bisa terjadi kapan saja dan itu menjadi ekstra perhatian kita terkait dengan teror,” tegas Leonardus.

Pernyataan senada disampaikan oleh Wali Kota Malang, Drs. H. Sutiaji. Guna mengantisipasi berbagai kemungkinan, kata dia, operasi berskala besar tersebut dilakukan selama 24 jam sehingga dapat memberi rasa aman bagi masyarakat.

“Tak hanya petugas, semua elemen masyarakat pun kami imbau waspada karena apapun bisa terjadi saat perayaan hari besar agama seperti saat ini,” sambungnya.

Jika ada hal-hal yang mencurigakan, kata orang nomor satu di Pemkot Malang itu, warga pun diimbau segera melapor ke petugas terdekat seperti kantor polisi atau kodim setempat. “Kami minta partisipasi masyarakat, agar Kota Malang tetap aman dan kondusif,” pintanya. (say/ram)

Cegah Kerumunan dan Klaster Lebaran dari Pasar Modern

Cegah Kerumunan dan Klaster Lebaran dari Pasar Modern

Malang, (malangkota.go.id)  – Mendekati perayaan Hari Raya Idulfitri 1442 Hijriah semua pasar modern atau mal banyak diserbu warga untuk memenuhi berbagai kebutuhannya. Warga mulai berjubel untuk membeli baju baru dan mengajak sanak keluarganya.

Wali Kota Malang, Drs. H. Sutiaji bagikan masker kepada warga dan pengunjung mal serta mengimbau tetap berdisiplin dalam menerapkan protokol kesehatan

Pemandangan seperti ini juga terlihat di Kota Malang dalam 2-3 hari terakhir, sehingga pihak Forkompinda pada Selasa (11/5/2021) melakukan peninjauan ke sejumlah pasar modern guna memastikan protokol kesehatan diterapkan secara ketat atau tidak.

Dipimpin Wali Kota Malang, Drs. H. Sutiaji beberapa pasar modern disasar bersama para petugas lintas sektor serta Satgas Covid-19. Tak hanya berkoordinasi dengan pengelola pasar modern para pengunjung yang berkerumun dan bahkan menggunakan masker tidak benar langsung diberi teguran. Di bawah koordinasi Dinas Kesehatan tes usap antigen pun digelar secara acak bagi pengunjung dan karyawan pasar modern.

Wali Kota Malang, Drs. H. Sutiaji dan jajaran Forkopimda menyaksikan pelaksanaan tes usap antigen yang digelar secara mendadak serta acak di pasar modern

Dari dua pasar modern yang ada di sekitaran Alun-Alun Kota Malang sebanyak 20 orang menjalani tes usap antigen dan hasilnya negatif. “Meski demikian selama satu minggu ke depan anggota Satgas Covid-19 akan disiagakan di sejumlah pasar modern untuk mencegah adanya kerumunan dan bahkan klaster baru penularan virus selama Hari Raya Idulfitri,” tegas Wali Kota Sutiaji.

Bagi pengunjung maupun para pengelola pasar modern yang abai atau tidak mengindahkan imbauan Satgas Covid-19, imbuh pria berkacamata itu, akan dikenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku. Pasalnya, kasus Covid-19 saat ini sudah dapat dikendalikan dengan baik dan bahkan ada tren penurunan. “Kita tidak mau ada masalah baru yang memicu pandemi ini tak kunjung mereda,” tegasnya.

“Kami memang mengambil beberapa sampling secara random, dan itu artinya bahwa sebenarnya kita terus menerus melakukan penguatan melalui pemantauan seperti ini. Adapun hasil pemantauan tadi 99 persen rata-rata pengunjung dan pekerja sudah memakai masker, protokol Covid-19 sudah banyak ditepati yang sehingga harapannya ini memang harus dipertahankan,” imbuh Sutiaji.

Tes ini, kata dia, untuk menguji orang-orang yang datang ke sini ini benar dalam kondisi terpapar Covid-19 atau tidak maka dipakai random sampling. “Pengetatan penerapan protokol kesehatan ini seiring dengan mulai menurunnya sejumlah kasus Covid-19 sehingga setelah Hari Raya Idulfitri tidak terjadi kenaikan,” ungkapnya.

Selain itu, jelas orang nomor satu di Pemkot Malang itu, semua pihak saat ini harus mewaspadai adanya mutasi atau varian baru Covid-19 dari India, Inggris, dan Afrika Selatan yang diklaim lebih berbahaya. Hasil mutasi virus tersebut juga diperkirakan sudah masuk ke Indonesia dan bahkan Jawa Timur.

Pada momen kali ini, Wali Kota Sutiaji juga membagikan masker kepada warga dan pengunjung mal dan mengimbau jaga kesehatan. (say/ram)

Tahun 60-an Awal Berkembangnya Band di Kota Malang

Tahun 60-an Awal Berkembangnya Band di Kota Malang

Malang, (malangkota.go.id) – Selalu ada manfaatnya belajar dari sejarah. Buku Empat Dekade Musik di Malang ini memang berangkat dari pemikiran tentang pentingnya mendokumentasikan karya seni budaya, khususnya seni musik, sebagai bagian dari sejarah Kota Malang.

“Tahun 60-an merupakan masa awal berkembangnya band-band di Kota Malang. Pengaruh The Beatles dan juga grup-grup barat lainnya sangat besar. Band-band di Malang, mungkin juga di kota-kota lain, saat itu lebih banyak tampil di panggung daripada di studio rekaman,” ujar Hengki Herwanto dari Museum Musik Indonesia – Kota Malang, Senin (10/5/2021).

Mereka menyanyikan lagu-lagu barat yang sedang digemari masyarakat. Pengaruh radio-radio siaran yang saat itu dikenal dengan nama radio amatir tak bisa disepelekan. Ini juga membentuk selera masyarakat dalam mengapresiasi musik. Beberapa radio berusaha tampil di depan memperkenalkan lagu-lagu baru yang mereka peroleh dari luar negeri dalam bentuk piringan hitam.

Masyarakat menengah ke bawah tak sanggup membeli piringan hitam sehingga mereka cukup puas mendengarkan dari radio favoritnya akhir 60-an sampai akhir 70-an grup-grup luar kota banyak yang tampil di Malang. Ada Koes Bersaudara, Dara Puspita, The Peels dan yang paling sering adalah The Rollies dari Bandung.

Menyusul kemudian grup-grup lainnya, seperti God Bless, Giant Step, The Mercy’s, Ternchem, AKA/SAS, The Gembell’s dan Pretty Sisters. Sedikit banyak kehadiran grup-grup tadi menjadi inspirasi bagi grup-grup Kota Malang. Walaupun Malang lebih dikenal dengan aroma rock, musik pop juga berkembang walau tak banyak diekspose media.

Dari Malang di era 60 hingga 70-an muncul penyanyi-penyanyi Maya Sopha, Marini, Mira Tania, Laily Dimjathie dan Mira Soesman. Keberadaan musik tradisi juga berkembang di sanggar-sanggar. Grup-grup karawitan sering tampil di berbagai acara hajatan. Pak Mantri, Pak Sholeh, Pak Warno adalah sebagian nama-nama pelestari seni musik warisan leluhur.

“Buku ini memang lebih fokus pada pendokumentasian musik rock dan pop yang digandrungi remaja pada zamannya. Semoga ini bisa menjadi inspirasi pengembangan musik di Kota Malang,” ujar Hengki Herwanto.

“Arief Wibisono atau akrab disapa Bison itu lahir di Malang, 3 Februari 1976. Dia alumnus S1 Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Merdeka Malang Jurusan Administrasi Negara,” sambungnya.

Dia aktif menulis artikel musik di koran Malang Ekspres (2017). Pernah menerbitkan majalah Be Sound, Rock Magazine (2013). Menulis buku Pungky Deaz, vokalis Power Metal, penerbit Media Nusa Creative Publishing, Malang, 2013. Arief tinggal di Jalan Arif Margono VIII Nomor 1781 RT 05 RW 07, Kelurahan Kasin, Kota Malang. (say/ram)

Peralihan Musik Pop ke Musik Rock

Peralihan Musik Pop ke Musik Rock

Malang, (malangkota.go.id) – Perjalanan ‘sejarah’ blantika musik pop di Kota Malang cukup panjang, penuh liku dan mengesankan. Terutama dari aspek kegigihan berkreativitas para musisi dan pencipta lagu, dalam mencipta aransemen musik dan lagu, yang tentu saja tak luput dari berbagai tantangan.

Sang penulis buku, Arief Wibisono, S.Sos menunjukkan buku hasil karyanya

“Jatuh-bangunnya para musisi dan pencipta lagu adalah hal lumrah di setiap dekade, sebelum akhirnya mencapai puncak popularitasnya,” ujar Arief Wibisono, penulis buku Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90, Senin (10/5/2021).

Secara garis besar, mulai periode 60-an, boleh dikatakan sebagai masa transisi dari musik orkes (alat musik manual) ke peralatan musik elektronik, atau lazim disebut band. Band pengiring, pada era 60-an, di blantika musik pop Kota Malang bermunculanlah sejumlah band pengiring seperti Band Eka Dasa Taruna, Avias, Tornado yang banyak berjasa dalam sejarah kebangkitan musik pop Kota Malang di era 60-70-an.

Band Bentoel spesialis menjadi band pengiring di perusahaan rokoknya dalam merekam lagu-lagu artis penyanyi solo sejak 1969-1972. Bentoel Band banyak mengiringi artis-artis tenar seperti Henny Poerwonegoro, Emilia Contessa dan banyak penyanyi lain era itu dan sempat tampil di Jakarta Fair Tahun 1972.

Di samping itu, Band Bentoel juga sempat merilis beberapa album. Saat itu Band Bentoel sudah masuk daftar band profesional, kreatif yang produktif pada saat itu. Sampai tahun 1975 dengan formasi terakhirnya sempat mengorbitkan vokalis rock Mickey Michaelbarch atau lebih dikenal dengan Micky Jaguar soalnya sebelum di Band Bentoel sempat gabung dengan Band Jaguar.

“Pada akhirnya ia merasa tidak sesuai lagi dengan konsep bermusik seperti ini. Micky Jaguar memutuskan bergabung band baru yang bernama Ogle Eyes yang sama-sama milik perusahaan rokok di Kota Malang,” bebernya.

Band panggung, sejak era Koes Plus, jenis music rock sebenarnya sudah diperkenalkan secara tidak langsung. Istilah musik Ngik Ngok yang dikecam oleh Soekarno yang kemudian diadaptasi oleh Koes Plus adalah cikal bakal musik rock di Indonesia.

Lagu Kelelawar Koes Plus misalnya, diyakini sebagai mulainya era musik rock atau kemudian dikenal di Indonesia dengan nama musik cadas. Memasuki era 70-an, seiring dengan keterbukaan segala informasi, mulailah bermunculan sejumlah band yang mengusung musik rock.

“Beberapa anak muda kemudian mengadaptasi kebudayaan barat. Kebetulan, perkembangan musik rock di Eropa dan Amerika pun sedang berkembang pesat. Led Zeppelin, band asal Inggris, membuat masyarakat terkaget-kaget karena mampu mempopulerkan raungan gitar yang meraung-raung,” papar Arief Wibisono.

Ditambah lagi dengan band asal Inggris, Deep Purple. Kedua band ini dianggap sebagai cikal bakal jenis musik baru yaitu Heavy Metal. Demikian juga dengan Yes, Genesis, Pink Floyd. Mereka membuat musik rock tidak hanya sekedar bising di telinga, namun memadukannya dalam sebuah harmoni musik yang indah. Muncul lagi istilah Art Rock atau lebih dikenal dengan istilah progresif rock.

Perkembangan musik rock di barat (dalam hal ini Amerika dan Eropa) berimbas juga ke Indonesia. Bak jamur yang tumbuh di musim hujan, band-band pun bermunculan. Gaya para musisi rock di luar diadaptasi oleh para anak-anak muda tersebut. Rambut gondrong, celana cutbrai, celana kulit, baju ketat, lusuh menjadi identitas anak-anak muda di Indonesia saat itu.

Tak lupa juga band Kota Malang pada waktu itu, mereka pun menamakan band-band mereka dengan nama-nama barat. Ogle Eyes, Bad Session, Darknes, Q Red, Greates, Arfack, Avia Nada, Elviera. Mereka inilah yang dianggap sebagai generasi pertama pemusik cadas Kota Malang yang penuh bakat dan inovatif. Bersamaan juga saat itu muncul Majalah Aktuil, yang memang mengkhususkan diri sebagai majalah musik dan gaya hidup.

Aksi panggung memegang peranan yang penting bagi kesuksesan pementasan musik rock di era tahun 1970-an. Saat itu, gaya panggung musik rock di Indonesia meniru habis band-band terkenal. Meskipun secara musikal suatu band tergolong berhasil dalam pementasan, tetapi jika tak didukung aksi panggung yang memadai maka band tersebut akan dinilai “culun” alias kampungan.

“Semakin hebat penampilan mereka di panggung, maka band ini akan semakin dikenal oleh publik seperti aksi vokalis Elviera Yudit Bowloz dengan membawa ular di atas panggung, Micky Jaguar dengan meminum darah waktu show di Gelora Pancasila Surabaya berimbas dengan dihentikannya pementasan saat itu,” sambungnya.

Salah satu hal mendasar dari penampilan di panggung adalah ekspresi wajah. Para personel band harus dapat menggambarkan keadaan tema serta karakteristik lagu. Melalui aksi panggung yang “nakal’ misalnya akan dapat menutupi kesalahan-kesalahan atau kekurangan yang terjadi dalam penyajian musiknya. Aksi sensasi di panggung merupakan salah satu hal yang penting dalam pertunjukan musik rock.

Terkadang dapat mendongkrak popularitas dari pemusik itu sendiri. Sebagai sebuah bentuk seni pertunjukan, pertunjukan musik rock memiliki gaya aksi tersendiri. Kebebasan dalam bermain musik yang bercorak keras terlihat ”menabrak” batasan-batasan umum, baik musik, lagu maupun gaya pertunjukannya.

Aksi panggung para kugiran (grup) musik rock dekade 1970-an umumnya cenderung bersifat teatrikal. Terkadang mereka juga menyuguhkan aksi panggung bakar-bakaran gitar seperti yang dilakukan gitaris Deep Purple, Ricthie Blackmore dan Jimmy Hendrix.

“Jadi dalam suatu pertunjukan musik, para personel band ini tidak hanya menyuguhkan kepiawaian dalam bermusik saja, tetapi juga menampilkan aksi panggung yang sejalan dengan aliran musiknya,” tutupnya. (Arief Wibisono/say/ram)

Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90 “No History No Future”

Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90 “No History No Future”

Malang, (malangkota.go.id) –Dengan puji syukur Tuhan YME akhirnya buku Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90 bisa tertuang dalam sebuah buku. Tentu banyak cerita, baik pengalaman pahit maupun manis. Karena dari kota ke kota hanya mengejar pencarian data yang otentik.

Sang penulis buku, Arief Wibisono, S.Sos menunjukkan buku hasil karyanya

Sekelumit cerita di tahun 2001, Arief Wibisono berangkat dari Kota Malang menuju ibu kota Jakarta menelusuri kembali band Kota Malang di era tahun 60 hingga 70-an, antara lain Band Jaguar, Band Bentoel, dan Elpamas. Banyak cerita apabila ditelusuri kembali sejarah musik Kota Malang berawal dari band pesta rumahan sampai menjadi band panggung.

“Kenapa saya tarik data mulai era 60-an? Sejak pascakemerdekaan belum banyak pergerakan tentang musik. Musik di era penjajahan Belanda hanyalah untuk sebuah pesta. Dari sini telinga tentang musik modern mulai didengar walau suara gamelan berkumandang di sudut langit nusantara,” ujar Arief Wibisono, Senin (10/5/2021).

Malang sempat mendapat julukan Kota Barometer Musik, yang menjadi patokan barometer adalah tingginya kepekaan selera musik arek–arek Malang pada saat itu. Banyak musisi yang keder apabila main atau show di Kota Malang. Mahalnya pendengaran musik arek-arek Malang dalam mengapresiasi tentang sebuah karya musik.

“Apabila permainan musik tidak sesuai permainan musik aslinya jangan harap pulang dengan tenang, lemparan sandal atau kursi pertunjukan menjadi sarana kekesalan penonton musik Kota Malang. Dapat disimpulkan bahwa mendapat predikat Barometer Musik Indonesia berarti penontonnya bukan seniman atau pelaku musiknya,” ceritanya.

Rangkuman Empat Dekade Sejarah Musik Kota Malang Era 60-90 adalah sebuah kumpulan data dokumentasi sejarah musik yang dimiliki Kota Malang. Mulai peradaban musik dari genre pop ke musik rock sampai tempat gedung pertunjukan jelas semua terdata dengan jelas.

“Perjalanan mahal tentang karya seniman musik Kota Malang kalau tidak dibukukan secara otentik akan muncul sebuah dongeng usang buat generasi berikutnya,” sambungnya. (Arief Wibisono/say/ram)