Artikel Ekonomi dan Bisnis

Kota Malang Catat Angka Deflasi Perkembangan Indeks Harga Konsumen

Malang, (malangkota.go.id) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang kembali merilis perkembangan Indeks Harga Konsumen di Kota Malang untuk bulan Agustus 2022. Untuk pertama kalinya dalam tahun ini Kota Malang mencatatkan angka deflasi sebesar 0,03%.

Rilis perkembangan Indeks Harga Konsumen di Kota Malang 

Dari delapan kota IHK di Jawa Timur, tujuh kota mengalami deflasi sementara satu kota lain masih mengalami inflasi seperti data rilisan bulan Juli 2022, yaitu Kota Surabaya sebesar 0,26%. Dari ketujuh kota yang mengalami deflasi, Kota Sumenep mengalami angka deflasi terdalam sebesar 1,13%, sedangkan angka deflasi terendah dialami oleh Kota Kediri 0,01%.

Selain angka inflasi bulanan, dalam catatannya BPS juga merilis angka inflasi kalender IHK Agustus 2022 terhadap Desember 2021 sebesar 4,71%. Sementara untuk angka inflasi year on year (yoy) terhadap Agustus 2021, Kota Malang mencatat angka 5,94%.

Kepala BPS Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini, SE., MM menyatakan sektor yang menjadi penyumbang angka deflasi adalah sektor makanan, minuman, dan tembakau. “Komoditas penyumbang deflasi ini mayoritas adalah komoditas hortikultura yang pada saat ini sedang mengalami musim panen di beberapa daerah,” ujarnya.

Sementara itu, sektor pendidikan menjadi sektor penyumbang angka inflasi tertinggi pada rilisan bulan ini. Menurut Erny, hal ini ditengarai karena masuk tahun ajaran baru dan juga adanya kenaikan indeks harga biaya pendidikan tinggi pada tahun ajaran 2022 ini.

Penyumbang inflasi paling kecil adalah perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang disumbang oleh kenaikan tarif dasar listrik dan bahan bakar rumah tangga. Akan tetapi Erny menambahkan, meski angkanya kecil kenaikan pada sektor ini tetap memiliki dampak yang luar biasa terhadap sektor lainnya.

Ketika ditanya apakah deflasi yang terjadi di bulan ini Agustus ini akibat adanya hambatan daya beli masyarakat, Erny menyampaikan bahwa hal ini lebih dikarenakan adanya surplus dalam beberapa komoditas yang menyumbang angka deflasi cukup tinggi.

“Bukan berarti ada hambatan dalam kemampuan beli masyarakat, tapi lebih dikarenakan adanya musim panen bagi beberapa komoditas hortikultura, itu cukup berperan besar. Selain itu langkah-langkah yang diambil pemerintah kota untuk menanggulangi kenaikan harga yang sebelumnya terjadi juga bisa menjaga laju inflasi di Kota Malang,” tambah Erny.

Selain IHK, BPS juga merilis Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Kota Malang untuk periode Juli 2022 sebesar 63,80 poin atau naik 5,54 poin dibanding data bulan Juni 2022 yang mencapai angka 58,26 poin. Angka ini lebih besar dibandingkan dengan TPK Jawa Timur dan Indonesia yang mencatat angka TPK sebesar 56,62 dan 49,77 untuk data bulan Juli 2022.

Erny juga mengungkapkan jika kedatangan para mahasiswa baru yang memulai pendidikan tinggi di Kota Malang ditengarai juga turut menjadi faktor penyumbang kenaikan angka TPK bulan ini.

Sementara itu, untuk angka Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) Hotel Bintang di Kota Malang, angkanya tercatat sebesar 1,41 poin. Angka ini 0,13 poin lebih rendah dibandingkan RLMT Jawa Timur sebesar 1,54 poin dan 0,20 poin lebih rendah dibandingkan RLMT Indonesia di angka 1,61 poin. (ayu/ram)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content