Berita

Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti Pelajari Kota Malang

Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti Jakarta bersama dosen pendamping secara khusus berkunjung ke Kota Malang untuk melihat secara langsung keindahan bangunan serta bentuk tata ruang Kota Malang, Selasa (23/12).

Para dosen dan mahasiswa jurusan Arsitektur Universitas Trisakti Jakarta saat di Balai Kota Malang, Selasa (23/12)
Para dosen dan mahasiswa jurusan Arsitektur Universitas Trisakti Jakarta saat di Balai Kota Malang, Selasa (23/12)

Dosen pendamping dari Universitas Trisakti, Ir. Ari Gunarsa mengungkapkan Kota Malang selama ini dikenal memiliki lansdscape tata kota yang bagus. Salah satu diantaranya adalah arsitektur di Jl. Ijen yang merupakan karya arsitek kondang asal Belanda, Herman Thomas Karsten.

“Dengan belajar langsung ke Kota Malang, kami semua dengan mahasiswa belajar bagaimana tata kota yang bagus, termasuk diantaranya pembangunan taman,” jelas Ari, Selasa (23/12).

Dengan bisa belajar langsung, Ari berharap mahasiswa tidak hanya sekedar mengenal teori , tetapi bisa mengenal secara detail bagaimana sebuah kota dirancang. Untuk karya Karsten dalam menata sebuah kota selama ini selalu memiliki ciri khas yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup serta menghargai nilai kemanusian.

“Karsten tidak pernah melupakan kepentingan kalangan berpenghasilan rendah, suatu yang jarang ditemui pada orang-orang Belanda pada masa itu,” tegas Ari.

Selain kawasan Taman Ijen, para mahasiswa Trisakti juga melihat beberapa taman lain yang ada di Kota Malang, diantaranya adalah Alun-alun Tugu, Alun-alun Merdeka, Taman Cerdas Trunojoyo, dan juga Taman Merbabu.

Sementara itu Staff Ahli Bidang Hukum, Pemerintahan, dan Politik Pemerintah Kota Malang Drs. Mulyono, M.Si yang menyambut kedatangan para mahasiswa di Balai Kota Malang ini mengaku senang dengan banyaknya mahasiswa dan dosen dari Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti yang datang ke Kota Malang. Dengan melihat secara langsung ke Kota Malang, mahasiswa bisa melihat bagaimana Kota Malang yang dahulu dan Kota Malang yang sekarang.

”Ruang Terbuka Hijau (RTH) idealnya 30 persen dari sebuah wilayah kota, kalau Malang dahulu itu bisa terjadi. Namun sekarang itu sudah tinggal kenangan karena Ruang Terbuka Hijau di Kota Malang tinggal tujuh persen,” terang Mulyono.

Mulyono menambahkan, ia sempat ke Negara China dan melihat langsung bagaimana penataan kota yang bagus dimana penataan taman di China membuat warganya bisa bercengkrama dengan bebas tanpa takut terganggu polusi maupun kendaraan.

“Dari pengalaman ini saya berpesan kepada para mahasiswa, buatlah karya-karya arsitektur yang hebat dengan terus belajar dan tidak hanya ingin berkembang di kota-kota besar,” tegas Mulyono. (cah/yon)

 

You may also like

Skip to content