Artikel

Koeboeran Soekoen, Situs Budaya Eropa di Kota Malang

Sukun (malangkota.go.id) – Bangunan kuno itu nampak angkuh, menjulang tinggi dengan gagahnya. Arsitektur bergaya Eropa yang konon dirancang oleh Thomas Herman Karsten, seorang arsitek Belanda yang bertangan dingin.

Gedung yang menjadi koridor pintu masuk menuju Kompleks Pemakaman Sukun memiliki keunikan tersendiri. Tidak semua Kompleks Makam Belanda memiliki gedung yang merangkap sebagai sebuah perkantoran.

Karsten merancang bangunan ini dengan begitu indahnya. Bagian tengah tampak tinggi dari bangunan kiri kanannya dapat diumpamakan sebagai sayap yang menonjolkan bangunan tengah sebagai ‘Focus Interest’ yaitu kekuatan sebuah bangunan untuk menjadi pusat perhatian.

Selain berfungsi sebagai pintu gerbang, konstruksi ini juga berguna sebagai akses lalu lalang mobil jenazah atau peziarah yang akan berkunjung ke Koeboeran Soekoen atau yang saat ini disebut TPU Sukun Nasrani.

Pada awal pembangunannya, tempat pemakaman yang berada di Jalan S. Supriadi difungsikan sebagai tempat peristirahatan terakhir kaum Eropa yang berada di Kota Malang.

Europese Begraafplaats Soekoen te Malang (Kuburan orang Eropa di Malang) itulah sebutan yang disematkan pada perkuburan yang memiliki luas lahan 120.000 m2 untuk pertama kalinya saat pembangunan pada masa Bouwplant III yakni pada masa pemerintahan Wali Kota Malang pertama, H I Bussemakaer (1919-1929).

Bukan tanpa alasan pihak Dewan Kota (Gemeenteraad) memilih wilayah Sukun yang terdapat di sebelah tenggara Kota Malang ini. Hal ini dimaksudkan untuk membuka geliat wilayah Sukun yang saat itu masih terisolasi karena terbelah oleh Sungai Sukun.

Alasan lain karena terjadi protes penduduk saat dicoba daerah Lowokwaru, Buring dan Kauman sebagai area pemakaman. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah wilayah Sukun merupakan pintu masuk ke Kota Malang dari arah Blitar.

Kompleks Pemakaman Sukun memang diperuntukkan bagi golongan Eropa yang berstrata sosial tinggi. Bangunan makam yang indah dilengkapi jirat, prasasti, patung malaikat bahkan tak jarang ada yang menyematkan puisi diatas marmer yang harganya selangit.

Tidak mengherankan jika dulu warga pribumi menyebutnya dengan istilah “Bong Londo”. Sebutan Bong diambil dari makam-makam Cina, sebut saja Bong Pay yang artinya Istana Terakhir.

Koeboeran Soekoen atau Koeboeran Londo sudah berusia seabad dan mengalami tiga masa yakni Era Kolonial Belanda, Era Pendudukan Jepang dan Era Kemerdekaan.

Menariknya, saat masa Kolonial Belanda bentuk bangunan makam (style makam) begitu indah, artistik dan menyimpan sejarah. Cungkupnya, pilar, patung maupun jirat memiliki karakteristik tersendiri.

Saat ini kita memasuki era kemerdekaan. Tentu saja pada periode ini mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Baik dari bentuk makam, luas bangunan maupun perhiasan makam. Meskipun begitu, Bangunan Makam Belanda harus tetap kita pertahankan, agar sejarah tidak tergerus.

Koeboeran Soekoen dengan segala eksotisme makam Londo-nya yang hanya tinggal puluhan saja, karena adanya penjarahan atau tangan-tangan jahil adalah cagar budaya yang harus terus dibudidayakan. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi…???
Selamatkan situs budaya…!!!

(hariani/yon)

Baca juga dalam : Artikel
Jumat, 20 September 2019 5:00 WIB

Gandeng UMM, Konjen AS Gelar US Graduate Fairs 2019

Rabu, 18 September 2019 5:00 WIB

Warga Kelurahan Arjosari Terima Bantuan Kolam Lele