Berita Perempuan

Dwi Rahayu, Sosok Kartini Tangguh dan Bersahaja

Malang, (malangkota.go.id) – Perempuan tak lagi selalu dianggap sebelah mata. Berkat kemampuannya banyak perempuan yang dipercaya sebagai pemimpin. Salah satunya adalah Dwi Rahayu, SH., M.Hum yang diberi amanah menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang Dwi Rahayu

Sosoknya yang bersahaja dan berwibawa menyiratkan sifat Kartini masa kini. Menurut Dwi Rahayu, perempuan Indonesia harus meneladani semangat Kartini. Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April merupakan momen pengingat, bahwa perempuan seyogyanya harus memiliki semangat tinggi seperti Kartini.

“Yang penuh semangat dan keberanian untuk mencapai cita, membuat perempuan Indonesia berpendidikan dan merdeka,” tutur penyuka singkong kukus dan tempe goreng ini.

Selama 26 tahun menjadi abdi negara dan lebih dari satu dasawarsa menjadi pimpinan di beberapa unit kerja, membuktikan bahwa perempuan pun mampu menjalankan kapal sebagai nahkodanya.

Karir kepemimpinannya dimulai saat menjadi Kepala Bidang Perindustrian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan pada 2008, kemudian Kepala Bidang Mutasi, Badan Kepegawaian Daerah pada 2009. Selanjutnya, 2010, perempuan berkaca mata ini dipercaya menjadi Kepala Bagian Hukum hingga 2013, dirinya mendapat amanah menjadi Kepala Bagian Organisasi. Sejak 2019 hingga kini, perempuan penggemar musik pop ini mengemban tugas sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda).

Melewati perjalanan karir yang panjang, penggemar film action ini mampu menunjukkan kapabilitasnya. Namun di sisi lain, dirinya mengaku bahwa untuk menjadi pemimpin bukanlah hal mudah.

“Pengalaman berkesan dalam karir kepemimpinan, salah satunya adalah saat pertama menjadi pimpinan dan mengharuskannya banyak berkomunikasi dengan kaum pria yang kita tahu lebih mengandalkan pikiran daripada perasaan,” ungkapnya.

Di tengah upayanya beradaptasi dengan suasana kerja yang baru, Dwi menghadapi sebuah kenyataan bahwa secara mendadak harus berperan ganda di keluarga kecilnya. Ia harus menjadi seorang ibu sekaligus ayah bagi anaknya. Sang suami terkasih yang telah mendampingi dan mendukungnya harus menghadap Sang Pencipta. Suatu kondisi yang begitu menguras tenaga, pikiran, dan perasaan tentunya. Di titik inilah ketangguhannya sebagai seorang perempuan diuji.

Tentu tak mudah menjalankan peran ganda, sebagai wanita pekerja juga seorang orang tua. Demi menyeimbangkan kehidupan keluarga dan pekerjaan, ia berupaya untuk meninggalkan pekerjaannya kala sudah berada di rumah, sehingga dapat menjalankan peran sebagai seorang ibu.

Kini penyuka warna merah ini, menjadi pemimpin sebuah instansi dengan membawahi lebih dari 60 orang dengan berbagai karakter. Dirinya dipacu untuk cepat dan tepat dalam menyelesaikan pekerjaan. Penggemar tahu telur ini pun berusaha menyeimbangkan perasaan dan logika.

“Karena tantangan terbesar dalam berkarir di pemerintahan adalah mengalahkan ego dan perasaan. Sehingga tidak mudah terbawa perasaan dengan demikian bisa bekerja maksimal,” sambungnya.

Semakin banyaknya perempuan yang terlibat dalam pembangunan menurutnya telah menjadi bukti bahwa pembangunan berkeadilan. “Bangsa yang besar adalah bangsa menghargai perempuan. Perempuan pun harus mengembangkan kemampuan diri agar tak dipandang sebelah mata dalam pengambilan kebijakan,” ucapnya. (ari/ram)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content