Artikel

Tempat Sampah Inovatif Karya Mahasiswa UB Raih Penghargaa Nadional

Lowokwaru (malangkota.go.id) – Tim Trasify Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) Universitas Brawijaya Malang meraih juara harapan untuk kategri Kota Cerdas dalam Kompetisi IT Pagelaran Mahasiswa Nasional Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (GEMASTIK) XII 2019 beberapa waktu lalu.

Trasify

Tim ini beranggotakan mahasiswa angkatan 2017 dari Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) dan Fakultas Teknik (FT). Mereka adalah Dandy Fajar Mahendra (FT), Muhammad Wildan Oktavian (FILKOM) dan Wiken Cahyo Pambudi (FT). Ketiganya mengembangkan produk dibawah bimbingan salah satu dosen FILKOM Raden Arief Setyawan, S.T., M.T.

Trasify merupakan tempat sampah inovatif yang mampu secara otomatis mengklasifikasikan sampah berdasarkan jenisnya. Produk ini berbasis Internet of Things (IoT) yang dikombinasikan dengan teknologi image processing dan Artificial Intelligence (AI). 

Wildan mengatakan dengan teknologi tersebut Trasify dapat mendeteksi jenis sampah organik, anorganik maupun logam secara otomatis dalam waktu singkat di wadah yang sama. Selain itu Trasify juga ramah lingkungan karena energi yang digunakan berasal dari panel surya 5V.

“Penerapan Trasify ini dirancang sesuai dengan konsep kota cerdas yaitu adanya data yang bersifat publik dan real time yang dimanfaatkan untuk keperluan warga kota dan pemerintah.

Oleh karena itu, Trasify juga memiliki fitur tambahan untuk publik sebagai pembuang sampah dan bagi petugas kebersihan,” ujarnya, Rabu (06/11/2019).

Bagi pembuang sampah, imbuh Wildan, Trasify dibuat mampu menerapkan fitur reward. Dengan fitur ini maka pembuang sampah akan diberikan reward berupa saldo e-money pada kartu RFID khusus yang dapat digunakan sebagai tiket penggunaan bus kota bagi masyarakat yang mendukung gerakan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.

Sementara itu bagi petugas kebersihan, lanjut Wildan, Trasify memiliki fitur pendeteksi lokasi tempat sampah. Dengan fitur ini maka petugas kebersihan dapat dengan mudah memonitoring titik lokasi keberadaan tempat sampah Trasify dan juga bisa mendapat notifikasi jika Trasify tersebut sudah penuh.

Lebih jauh Wildan mengatakan, bahwa pembuatan Trasify dilatarbelakangi oleh peningkatan jumlah penduduk yang pesat sehingga memicu peningkatan kuantitas sampah yang dihasilkan suatu wilayah. Hal ini bisa berdampak negatif jika tidak dikelola dengan penanganan yang tepat.

Oleh karena itu, tiga mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang menamakan dirinya Tim TroubleSolver membuat sebuah teknologi yang diberinama Trash Classifying atau disingkat Trasify. (UB/say/yon)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content