Artikel

Masjid Sabilillah dalam Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI

Malang, (malangkota.go.id) – Ketika terjadi pertempuran pada 10 November 1945 di Surabaya, bergabung juga di medan laga tersebut pasukan yang gagah berani dari Kota Malang yaitu pasukan sabilillah dan hizbullah. Di bawah komando Imam Sudja’I, Kiai Masykur dan Kiai Zainul Arifin, tidak sedikit personil pasukan yang gugur di sejumlah daerah di kota pahlawan tersebut.

Masjid Sabilillah Kota Malang yang dibangun untuk mengenang perjuangan pasukan sabilillah dan hizbullah dalam mengusir penjajah

Setelah tragedi 10 November 1945 yang sekarang dikenang sebagai Hari Pahlawan, dua pasukan tersebut kembali ke Kota Malang. Hingga beberapa waktu kemudian datang lagi penjajah dari Inggris dan pasukan hizbullah serta sabilillah kembali bertempur untuk menolak kedatangan mereka. Pada pertempuran ini banyak bergabung pejuang dari Kabupaten Lumajang dan Jombang.

Dijelaskan Ketua III Yayasan Sabilillah Kota Malang, yang membidangi sosial, ekonomi dan kemasyarakatan, Prof. Mas’ud Said pada Jumat (30/04/2021) jika pada pertempuran hebat itu mengakibatkan tewasnya pemimpin tentara Inggris yaitu Brigjen Mallaby. “Untuk mengenang kegigihan dan perjuangan pejuang bangsa tersebut dibangunlah Masjid Sabilillah di Jalan Ahmad Yani 15 Kota Malang yang dulunya juga menjadi markas dan tempat menyusun strategi perang,” ujarnya.

Di dalam Masjid Sabilillah tersirat masa perjuangan arek-arek Malang. Seperti jumlah pilar masjid sebanyak 17 buah yang melambangkan tanggal 17, lantai sampai ke atap tingginya delapan meter melambangkan bulan delapan atau Agustus. Lebar masjid dan tinggi menara yang 45 meter melambangkan tahun perjuangan bangsa Indonesia yakni tahun 1945.

Kiai Maskur itu, terang Prof. Mas’ud juga menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia (PPKI). Dari situ beliau juga mengusulkan rancangan Pancasila dan UUD 1945 (sebelum tahun 1945). Setelah beberapa bulan ada penyerangan kembali, Kiai Masykur kembali ke Kota Malang memimpin pasukan. “Beliau memimpin untuk menolak kedatangan pasukan Inggris sampai terbunuhnya pemimpin mereka yaitu Brigjen Mallaby yang membuat dunia waktu itu gempar,” imbuhnya.

Peristiwa yang terjadi di Kota Surabaya itu, terang pria berkacamata itu sangat mungkin itu oleh arek-arek surabaya, gabungan dari para alim ulama, pasukan Sabilillah dan pasukan yang dipimpin Kiai Masykur pasukan hizbullah dan sebagian arek-arek Malang. Kala itu, para pejuang dari Kabupaten Lumajang dan Jombang turut bergabung di dalamnya.

“Peristiwa heroisme itu ditanamkan kepada kami agar masjid ini tetap sejahtera, menyejahterakan dan tetap menjaga hubungan dengan Allah SWT, mantap tapi ikut mempertahankan kemerdekaan bangsa dan mengisinya sampai sekarang,” paparnya.

Lebih jauh Prof Mas’ud menjelaskan, antara pilar yang satu dengan lainnya berjarak lima meter memiliki makna Pancasila dan rukun Islam, segi enam pada bangunan menara melambangkan rukun iman pada agama Islam.
“Garis tengah bangunan kubah yang panjangnya 20 meter melambangkan sifat-sifat Allah SWT dan di dalam masjid terdapat sembilan pilar yang memiliki arti kepada perjuangan para wali songo yang menegakkan agama Islam di Pulau Jawa,” pungkasnya. (say/ram)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content