Berita

Batik Sukun, Perkaya Khazanah Batik Malangan

Sukun (malangkota.go.id) – Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) batik Kota Malang kemampuannya tidak perlu di ragukan lagi. Selain batik Malangan, selama ini banyak bermunculan batik tematik untuk menguatkan ikon batik Malangan seperti batik Celaket dan Batik Bunulrejo. Kini yang terbaru muncul dari warga RW 3 Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun Kota Malang yang melahirkan batik bermotif buah dan daun pohon Sukun.

Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji bersama Ibu menunjukkan batik Sukun hasil karya pengerajin setelah membuka Festival Batik Sukun 2020

Seiring antusiasme warga sangat tinggi, maka digelarlah Festival Batik Sukun 2020 di UPT Pengelolaan Pemakaman Umum DLH Kota Malang (area Taman Makam Londo), Jl. S. Supriadi No. 38 Kota Malang, Sabtu (03/10/2020). Beberapa ikon Kota Malang seperti topeng dan tugu Malang dipadukan dalam motif batik Sukun sehingga kesan batik Malangannya pun tidak hilang.

Bagi pengrajin, Sukun difilosofikan sebagai pohon kehidupan karena dari akar, pohon, daun dan buah sukun mempunyai manfaat besar bagi manusia. Seperti halnya buah sukun yang dapat diolah menjadi aneka kreasi kue dan daun sukun yang bisa dijadikan minuman herbal.

Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji saat membuka Festival Batik Sukun 2020 mengaku sangat bangga atas kreativitas warga. Batik Sukun ini akan menambah khasanah batik Malangan dan bahkan nasional. Menurutnya, ini akan menjadi kekuatan dan menjadi daya ungkit yang luar biasa dan ke depan diharapkan akan banyak bermunculan batik tematik lain sehingga secara otomatis akan terus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

“Daya ungkitnya saya kira tinggi, kita lihat laporan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) nasional, daya ungkit terhadap pertumbuhan ekonomi dan ekspor khusus berkaitan dengan masalah fesyen, untuk batik ini itu tinggi sekali, lebih dari 42 persen. Yang perlu kita optimalkan adalah bagaimana koneksitas di masing-masing kelompok masyarakat bisa menjadi suatu kekuatan,” imbuhnya.

Wali Kota Malang berpesan agar gelaran ini tidak berhenti di sini saja, tapi harus berkelanjutan sehingga batik Sukun akan menjadi ikon dan memiliki ciri khas. “Pendampingan dan pembinaan pun harus diintensifkan agar program ini tak sekedar selesai pada tahapan seremonial saja. Batik mempunyai peminat/pangsa pasar yang besar. Oleh sebab itu, semua pihak harus memberi dukungan dan apresiasi,” urai pria berkacamata itu.

Sementara itu Nena Bachtiar, selaku penggiat batik di wilayah Kelurahan Sukun mengaku optimis jika batik tematik bermotif Sukun yang diinisiasi warga tersebut dapat menembus pasar nasional dan bahkan internasional. Perempuan berhijab itu pun mengaku akan terus berinovasi dan melakukan promosi, terutama melalui media sosial agar batik Sukun bisa mendunia.

Lebih jauh ia menyampaikan jika pihaknya bersama warga akan menggali sejarah dan budaya di wilayah Kecamatan Sukun untuk dituangkan dan dikolaborasi dalam batik Sukun nantinya. Dari berbagai upaya tersebut, Nena meyakini jika nantinya akan banyak bermunculan UMKM batik yang secara otomatis akan turut menekan angka pengangguran. (say/yon)

You may also like

Skip to content