Artikel

Puthu Lanang, Jajanan dari Celaket Melegenda Sejak 1935

Malang, (malangkota.go.id) – Didirikan oleh Ibu Supiah pada tahun 1935, Puthu Lanang tenar di kalangan masyarakat Malang hingga luar kota. Sejak awal berdiri, kudapan ini dikenal dengan nama Puthu Celaket. Karena terkenal, akhirnya banyak penjual puthu lainnya yang membuat nama yang sama.

Puthu Lanang yang dijajakan di sebuah gang buntu di Kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto

Banyak pelanggan akhirnya konfirmasi apakah memang benar Puthu Celaket ini membuka cabang. Nyatanya, sejak awal berdiri sama sekali tidak ada cabang dari Puthu Celaket. Akhirnya atas saran pelanggan, dibuatlah hak paten dengan nama baru “Puthu Lanang” proses pembuatan hak paten ini pun juga dibantu pelanggannya yang merupakan seorang notaris.

“Tahun 2.000-an, saat itu ibu saya belum punya cucu laki-laki, jadi saya spontan saja nyebut Puthu Lanang. Selain itu kan ada puthu ayu, kok gak ada temennya. Ya akhirnya muncullah nama Puthu Lanang,” ungkap Siswoyo, anak Ibu Supiah yang kini mengelola Puthu Lanang saat ditemui di rumahnya yang juga sebagai tempat persiapan bahan-bahan di Jalan Grindulu 13 Malang, Sabtu (06/03/2021).

Puthu adalah salah satu jajanan pasar yang terbuat dari tepung beras, gula merah, dan parutan kelapa. Memasaknya pun dengan cara dimasukkan dalam bambu dan kemudian diletakkan di atas kukusan. “Awal berdiri ibu saya hanya berjualan puthu saja, namun setelahnya mulai ditambah klepon, lalu lupis dan cenil. Kami juga menerima pesanan tumpeng jajanan pasar harganya mulai Rp150.000. Untuk tumpeng jenis jajanannya klepon, lupis, cenil, tiwul, gatot, dan bledus. Kalau puthu hanya ada malam saja,” ujarnya.

Puthu Lanang yang dijajakan di sebuah gang buntu di Kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto

Prinsip yang dipegang teguh untuk mempertahankan konsistensi kualitas Puthu Lanang adalah “jual mau, beli mau”. Artinya saat mau menjual sebuah produk, seseorang juga harus mau membeli produk itu. Dengan kata lain, penjual pun mau mengonsumsi produk yang dijualnya karena yakin bahwa produknya enak, bersih, aman dikonsumsi, sebab dibuat dari bahan baku berkualitas. Inilah yang membuat Puthu Lanang tetap terjaga kualitas dan cita rasanya hingga kini.

Puthu Lanang nyatanya tidak hanya digemari oleh masyarakat Malang, mantan Presiden Soeharto pun pernah mengundang Siswoyo langsung ke kediamannya untuk membuatkannya kue puthu. “Dua kali saya ke Cendana membuatkan pesanan langsung dari Pak Harto sekitar tahun 1980-an,” tandasnya.

Selain itu banyak orang Belanda dan Jepang yang dulu pernah di Malang juga menggemari Puthu Lanang ini. “Ibu saya juga fasih Bahasa Jepang dan lainnya sehingga bisa berkomunikasi dengan lancar dengan mereka,” sambungnya.

Suasana antrian Puthu Lanang di Kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto

Puthu Lanang yang dijajakan di sebuah gang buntu di Kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto, tepatnya di sebelah dealer Kawasaki Motor ini memang tak pernah sepi pembeli. Bahkan sebelum buka pun, antrean pembeli sudah mengular. Puthu Lanang buka setiap hari pukul 17.00-21.00 WIB, namun kadang sebelum pukul 21.00 WIB dagangannya sudah ludes diterjual. Dalam sehari, omzet penjualan mencapai Rp6.000.000 hingga 7.000.000 dengan 600-700 porsi yang bisa terjual dengan harga per porsi Rp10.000. (ari/ram)

You may also like

Skip to content