Artikel Kesehatan

Kota Malang Terbebas dari Kasus Penyakit Mulut dan Kuku

Lowokwaru, (malangkota.go.id) – Gerak cepat dan tepat Pemerintah Kota Malang dalam penanganan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan peliharaan berbuah manis. Melalui penanganan yang sistematis, saat ini penyebaran PMK di Kota Malang sudah berada di angka nol, Rabu (24/8/2022).

Sapi Kota Malang sehat terbebas dari PMK

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, drh. Anton Pramujiono mengungkapkan, saat ini untuk kasus PMK di Kota Malang sudah nol kasus. Dari data terakhir ada 444 kasus PMK di Kota Malang yang sudah terjadi.

“Dari 444 kasus PMK di Kota Malang 227 sembuh, 3 mati, dan 164 ternak dipotong paksa. Saat ini sudah tidak ditemukan lagi kasus PMK di Kota Malang,” jelas Anton.

Kasus PMK di Kota Malang terdiri 421 ekor sapi, 254 ekor sembuh, 3 mati, dan 164 dipotong paksa. Untuk kasus PMK kerbau 21 kasus terjadi dan semua sembuh. Untuk kambing dua ekor dan sembuh.

Meski kasus PMK di Kota Malang saat ini sudah ada di angka nol, Anton mengimbau para peternak di Kota Malang harus tetap waspada. Menjaga kebersihan kandang, melakukan vaksinasi, secepatnya memberikan informasi ke Dispangtan saat ada ternak menunjukkan tanda-tanda terkena PMK.

Dispangtan Kota Malang juga sudah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan juga Pemerintah Kota Malang untuk pengadaan obat-obatan mengantisipasi adanya PMK. Di mana saat ini obat-obatan sudah tersedia sehingga jika ada kejadian PMK lagi, Kota Malang sudah siap melakukan penanganan.

“Baik obat-obatan dari bantuan provinsi maupun dari APBD Kota Malang, saat ini ada di Dispangtan sehingga kapanpun dibutuhkan semua siap,” kata Anton.

Dalam proses pengobatan, Dispangtan Kota Malang bekerja sama dengan dokter hewan yang ada di Kota Malang. Baik dari puskeswan maupun delegasi dari Fakultas Kedokteran Hewan di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Malang.

“Dokter dari puskeswan ke lapangan untuk pencegahan juga dilakukan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) kepada para peternak,” terang Anton. (cah/ram)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content