Artikel Kuliner

Surabi Imut, Jajanan Legendaris yang Patut Dicoba

Klojen (malangkota.go.id) – Surabi, makanan khas Bandung yang mungkin sebagian besar warga Kota Malang lebih mengenalnya dengan nama serabi. Serabi biasanya disantap bersamaan dengan angsle, yang kerap kita temui sebagai kudapan penghangat tubuh di malam hari. Akan tetapi, masyarakat Bandung lebih sering menikmatinya saat pagi hari untuk sarapan.

Surabi Imut

Haryanto, pemilik Surabi Imut, membagikan kenikmatan surabi Bandung ke Kota Malang. Awalnya, diceritakannya awalnya ia membantu sang kakak yang tinggal di Bandung berjualan surabi. Dari sanalahdirinya banyak mendapatkan pengalaman berjualan surabi, yang membuatnya berani untuk membawa bisnis tersebut ke Kota Malang pada tahun 2005.

Sebuah kios kecil di seberang Pasar Klojen menjadi saksi merintis usahanya. Seiring berjalannya waktu, usahanya berkembang hingga ia harus pindah agak masuk ke dalam gang dan membuka tenda untuk para pelanggannya. Ia bahkan sempat menyewa kios lain saat bisnisnya berkembang. Sayangnya, pandemi Covid-19 yang melanda membuatnya harus menutup cabang tersebut dan kehilangan beberapa karyawan.

Meski begitu, surabi imut tetap menjadi idola banyak masyarakat Kota Malang. Haryanto menuturkan ada banyak pelanggannya dari luar kota yang tetap mampir ke kiosnya ketika berkunjung atau mudik ke Kota Malang. Kebanyakan dari mereka seperti sedang bernostalgia pada masa lalunya setiap kali mampir ke kiosnya yang sejak dulu menjadi tempat nongkrong favorit para kaum muda.

Surabi imut yang Haryanto jual memang terlihat sama persis dengan umumnya surabi yang dijual di Bandung. Bahkan alat masaknya, yang berupa gerabah dan dimasak di atas tungku tanah liat juga persis sama. Rasa surabinya pun terasa otentik.

Yang membuat beda, Surabi Bandung pada umumnya disajikan dengan saus gula merah yang biasa disebut dengan kinca. Di warung ini, surabi disajikan dengan berbagai macam topping. Ada sekitar 40 varian topping termasuk dengan kombinasinya, mulai dari topping cokelat, keju, kacang, telur, hingga oncom yang jarang sekali ditemui di Kota Malang.

“Kalau untuk toping ini saya variasikan sendiri. Kalau oncom di Malang ndak ada yang jual, jadi saya buat sendiri juga oncomnya,” terang Haryanto.

Setiap harinya Haryanto mengaku bisa menghabiskan kurang lebih tiga hingga empat kilogram tepung untuk membuat surabi. Nantinya adonan surabi dibuat sesuai dengan banyaknya pelanggan yang datang, sebab surabi adalah makanan yang tidak bisa tahan lama.

“Beda sama apem yang harus tunggu sampai dia (adonannya_red) mengembang. Adonan surabi nggak perlu. Tapi cuma bisa tahan lima jam dari mulai dibuat,” jelasnya.

Selain surabi, Haryanto juga menyediakan yoghurt di kedainya. Dirinya bahkan berani mengklaim tempatnya mungkin menjadi salah satu pelopor penjual minuman fermentasi susu tersebut di Malang. Sama seperti surabi, menu ini juga ia bawa langsung dari Bandung. “Kan dulu saya di Dago, di sana terkenal dengan minuman yoghurt. Saya bawa juga ke sini,” terangnya lagi.

Warung surabi imut ini buka setiap hari mulai pukul 12.00 WIB – 21.00 WIB. Harganya bervariasi mulai dari Rp2.500,00 untuk setiap surabinya tergantung dengan topping. Sedangkan untuk yoghurtnya dijual dengan berbagai varian rasa mulai dari Rp3.000,00.

Selain dua menu tersebut, warung yang berlokasi di Gang IV Pasar No. 85 Klojen Kecamatan Klojen Kota Malang ini juga menjual menu pisang bakar yang dijual dengan harga mulai dari Rp4.000,00 dengan berbagai varian topping. (iu/yon)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content