Berita

Jembatan Kaca Penghubung Dua Kampung Tematik Diresmikan

Klojen (malangkota.go.id) – Jembatan penghubung dua kampung tematik di Kota Malang, yakni Kampung Warna-Warni dan Kampung Tridi, Senin (9/10) diresmikan. Jembatan yang diberi nama Jembatan Kaca Ngalam Indonesia ini diresmikan langsung oleh Wali Kota Malang H. Moch. Anton.

Jembatan Kaca Ngalam Indonesia yang menghubungkan Kampung Warna-Warni dan Kampung Tridi (foto: Cahyo Nugroho)

Peresmian tersebut dihadiri langsung Komandan Kodim 0833/Malang Kota Letkol (Inf) Nurul Yakin, perwakilan dari Polres Malang, Vice President Direktur PT Inti Daya Guna Aneka Warna (PT Indana) Steven Antonius Sugiharta, beberapa Kepala Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemkot Malang dan Forkopimda Kota Malang.

Jembatan Kaca Ngalam Indonesia merupakan salah satu wahana wisata baru di Kota Malang yang menghubungkan Kampung Warna Warni dan Kampung Tridi, dua destinasi wisata yang sudah mulai dikenal luas.

Wisatawan yang hendak berkunjung ke dua lokasi wisata itu kini tak lagi harus melewati Jembatan Brantas yang lokasinya dekat dengan jalan raya, melainkan bisa langsung melintasi jembatan kaca yang sudah dibangun dengan dana Corporate Social Responsibility (CSR) tersebut.

Wali Kota Malang, H. Moch Anton mengatakan, ide membuat jembatan kaca sebagai penghubung dua destinasi wisata yang terletak di dua kelurahan berbeda ini awalnya dikomunikasikan dengan para akademisi dan juga pihak PT Indana yang sebelumnya berjasa besar memberikan dana CSR untuk pemolesan Kampung Warna-Warni.

Ide baik itu akhirnya mendapat tindak lanjut sehingga terhitung sejak tanggal 8 Juni pembangunan jembatan kaca itu direalisasikan dan rampung pada tanggal 25 September.

“Jembatan Kaca Ngalam Indonesia ini adalah destinasi wisata baru yang menguji adrenalin kita, sekaligus penghubung Kampung Warna-Warni dan Kampung Tridi yang namanya sudah tersohor tidak hanya skala nasional melainkan internasional,” kata Abah Anton, demikian pria ramah itu akrab disapa.

Jembatan kaca tersebut memiliki ketinggian 9,5 meter diatas tanah dengan panjang 20 meter dan lebar 1,25 meter. Kapasitas jembatan kaca itu sendiri mampu menampung maksimal 50 orang. Dari segi konstruksi, jembatan dirancang oleh akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan materi bahan yang sudah teruji kekuatannya.

Atas pertimbangan itulah, Kementerian PUPR memberikan izin kepada Pemerintah Kota Malang untuk melakukan pembangunan jembatan yang diprediksi akan banyak menyedot wisatawan tersebut.

“Hadirnya jembatan ini adalah inspirasi bagi kita, dimana dua kampung di Kelurahan Ksatrian dan Kelurahan Jodipan ini awalnya kumuh kini menjadi jujugan wisatawan nusantara dan mancanegara, hal ini adalah mimpi warga yang terealisasi,” imbuh Abah Anton.

Dikatakan pula, dengan dibangunnya Jembatan Kaca Ngalam Indonesia ini diharapkan berkorelasi dengan peningkatan daya ekonomi warga serta pertumbuhan produk UMKM masyarakat setempat. “Ini adalah bentuk dari konsep memajukan ekonomi rakyat. Karena itu saya berharap jembatan ini bisa menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan penghasilan masyarakat di dua kampung ini,” harap Abah Anton.

Abah Anton sangat berharap warga pada dua kelurahan tersebut bisa menjaga jembatan kaca yang baru diresmikan ini dengan cara merawat dan mengikuti berbagai petunjuk yang sudah diberikan oleh para perancangnya. “Seperti misalnya jembatan ini maksimal hanya 50 orang, jangan sampai lebih dari itu yang melintasi. Sehingga dengan cara tersebut bisa menjaga dan merawat jembatan kaca,” tukasnya.

Senada, Vice President Direktur PT Indana, Steve Antonious Sugiharta, berharap dengan adanya pembangunan jembatan ini bisa membantu masyarakat setempat lebih meningkatkan taraf ekonomi dan menarik wisatawan untuk datang ke Kota Malang.

“Harapannya dengan datangnya wisatawan ke Ksatriaan dan Jodipan bisa membantu ekonomi warga,” ucap Steven. (say/yon)