Berita

Disbudpar Gelar Workshop Kebudayaan dan Pembinaan Pelaku Ekraf

Blimbing (malangkota.go.id) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang menggelar Workshop Kebudayaan dan Pembinaan Pelaku Ekonomi Kreatif di Hotel Atria Kota Malang, Kamis (8/2/2018).

Walikota Malang H. Moch. Anton saat memberikan sambutan

Hadir pada kesempatan ini Walikota Malang H. Moch. Anton sekaligus menyerahkan secara langsung penghargaan Anugerah Budaya Malang Kucecwara kepada sepuluh seniman Kota Malang.

Para seniman dan pelaku budaya yang mendapatkan peghargaan diantaranya Jati Kusumo (Budayawan), Lulus (seniman Jaranan), Edy Priyono (Keroncong), Yongki Irawan (tari), Sunari (seni rupa), Wahyudi (wayang orang), Sapari Anom Carito (dalang), Suwarno (pengrawit), Gozali (kaligrafi), dan Syamsul Subakri (seni kreatif).

Melalui penghargaan yang diberikan ini harapannya antusiasme dan semangat para pelaku seni di Kota Malang semakin terpacu.

Dalam sambutannya, Walikota Malang H. Moch. Anton mengungkapkan sangat senang sekali bisa berkumpul dengan segenap pelaku seni budaya dan pelaku ekraf di Kota Malang.

“Kegiatan seperti ini sangat penting dilaksanakan untuk bersama menyamakan pikiran dan persepsi demi memajukan dan melestarikan kesenian di Kota Malang,” jelas pria yang akrab disapa Abah Anton itu, Kamis (8/2).

Kesenian di Kota Malang, diharapkan Abah Anton semakin berkembang, baik di kancah nasional maupun internasional. Dan melalui kegiatan ini bisa diidentifikasi berbagai persoalan kesenian di Kota Malang agar bisa dicarikan solusi atau  jalan keluar terbaik.

Senada dengan Abah Anton, salah satu peserta kegiatan, Sinwan, mengaku senang dengan adanya kegiatan ini. Menurutnya melalui kegiatan ini aspirasi para pelaku seni  dan ekonomi kreatif bisa tersalurkan.

“Banyak sekali masukan dari para seniman Kota Malang yang kalau saya jelaskan satu persatu akan sangat panjang. Kami berharap Pemerintah Kota Malang benar-benar serius memperhatikan seni di Kota Malang,” harap Sinwan.

Dicontohkannya, saat ini di Kota Malang masih belum memiliki gedung seni pertunjukan yang representatif seperti di Solo, Yogyakarta atau Jakarta.

Pada kesempatan ini ada usulan agar Kota Malang bisa mengadakan acara semacam Malang Tempo Doeloe yang bisa menjadi wadah pelaku seni dan ekonomi kreatif untuk unjuk gigi. (cah/yon)