Artikel

Sektor Pariwisata dan UMKM Miliki Potensi Besar

Blimbing (malangkota.go.id) – Guna memacu pertumbuhan ekonomi ke depan, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dr. Sugeng mengimbau semua Bank Indonesia di setiap kantor perwakilan daerah agar berkoordinasi dan bersinergi dengan pemerintah daerah dan  berbergai pihak.

Acara serah terima jabatan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang di Hotel Harris, Senin (14/01/2019)

Hal itu disampaikannya usai acara serah terima jabatan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang di Hotel Harris, Senin (14/01/2019). Dari beberapa sektor yang diprediksi berpotensi besar dan bisa digenjot adalah sektor pariwisata dan UMKM.

Berkaca dari pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi tahun lalu yang relatif kecil, maka diprediksi nantinya pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan terus membaik.

Jajaran Bank Indonesia, mulai dari pusat hingga daerah, diterangkan oleh Sugeng akan terus berupaya agar pertumbuhan ekonomi di Indonesia ke depan terus membaik dan tidak terlalu terpengaruh oleh faktor lain.

“Hingga saat ini, sektor pariwisata dan UMKM masih berpotensi besar mendongkrak pendapatan devisa negara. Dalam konteks ini, setiap daerah pasti memiliki keunggulan di kedua sektor itu, sehingga harus terus didongkrak,” sambungnya.

Lebih jauh Sugeng mengatakan, seperti Malang, Banyuwangi dan Bali, potensi produk UMKM dan  juga pariwisatanya sangat tinggi dan dapat menembus pasar dunia.  “Di (Kabupaten) Malang ada Pantai Sendang Biru dan Pantai Tiga Warna, di Banyuwangi ada Pulau Merah, dan Bali dengan Pantai Kuta-nya. Berbagai kerajinan dari tiga daerah tersebut mulai dari kerajinan hingga kuliner, juga bersaing di pasar global,” urainya.

Sedangkan berbagai langkah konkret yang ditempuh oleh Bank Indonesia selama ini, lanjut pria berkacamata itu, melalui kebijakan moneter dan kebijakan makro prudential cukup efektif. Salah satu dampak positif dari semua itu  yaitu pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2018 sebesar 5,2 persen dan inflasi sekitar 3,1 persen.

Sedangkan terkait cadangan devisa negara, dijelaskan Sugeng jika saat ini juga sudah mulai membaik, dimana yang sebelumnya sekitar 113 milyar USD, pada akhir Desember 2018 lalu sudah berada di kisaran 120,69 milyar USD.

“Dari cadangan devisa negara tersebut, setidaknya dapat dipakai untuk membayar impor dan hutang luar negeri pemerintah selama enam bulan ke depan,” pungkasnya. (say/yon)