Berita Disabilitas

Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama Dunia Tuli ‘Bahasa Isyarat’

Malang, (malangkota.go.id) – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melibatkan kelompok berkebutuhan khusus menentukan arah pembangunan Kota Malang tahun 2023. Hal itu dikemas dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Disabilitas oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang.

Juru bahasa isyarat Ni Ketut Desy Ariani menerjemahkan penutur Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji kepada kelompok tuli

Timbul pertanyaan, bagaimana dengan kelompok disabilitas tunarungu (tuli) dan tunawicara (bisu)? Apakah mereka paham dengan bahasa orang-orang normal sehari-hari? Jawabannya tentu tidak. Oleh karena itu, orang yang berkebutuhan khusus tuli diperlukan seorang penerjemah atau juru bahasa isyarat.

Di Indonesia terdapat dua jenis bahasa isyarat yang digunakan. Pertama, Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Kedua, Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). Bagi masyarakat yang awam, keduanya memang tampak sama. Namun, baik BISINDO maupun SIBI ternyata memiliki pengertian yang berbeda.

SIBI merupakan bahasa isyarat yang diadopsi dari American Sign Language (ASL). Bahasa isyarat yang satu ini juga biasa dipakai di Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk berkomunikasi antara guru dan siswa maupun antar siswa. Meskipun merupakan bahasa isyarat yang direkomendasikan oleh pemerintah, banyak yang berpendapat bahwa SIBI ini lebih sulit karena mengandung kosakata yang baku dan rumit.

BISINDO adalah bahasa yang biasa dipakai oleh orang-orang tuli dan bisu sejak kecil. Boleh dibilang bahwa BISINDO ini adalah bahasa alami yang mudah dicerna oleh sesama tuli atau ketika dipakai berkomunikasi dengan orang normal.

Juru bahasa isyarat Ni Ketut Desy Ariani mengatakan, saat menerjemahkan suatu bahasa ke dalam bahasa isyarat tidak hanya menggunakan gerak tangan, namun juga mimik wajah atau ekspresi. Juru bahasa isyarat bertugas menerjemahkan bahasa penutur ke dalam bahasa isyarat ataupun sebaliknya.

“Sehingga teman-teman tuli dapat menyampaikan usulan dan menerima informasi dengan baik dan jelas di musrenbang ini. Tujuannya untuk membangun Kota Malang agar semakin inklusif dan teman-teman difabel bisa semakin nyaman, serta pembangunan dapat mereka nikmati secara maksimal,” ujar Desy, Jumat (17/2/2022).

Desy mengaku dirinya masih terus belajar menjadi juru bahasa isyarat. Dia tertarik dengan bahasa isyarat sejak dia mulai berkomunikasi dengan orang tuli di dalam suatu kegiatan yang melibatkan komunitas disabilitas di Kota Malang. Sejak itu, tepatnya tahun 2017 Desy benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap dunia tuli. Akhirnya Desy benar-benar serius mempelajari bahasa isyarat.

“Saya merupakan volunteer di sebuah komunitas di Kota Malang, namanya Akar Tuli dan di Pusat Studi Layanan Disabilitas, Universitas Brawijaya. Kemudian dari situ saya sering membantu teman-teman tuli untuk akses, seperti mendampingi teman-teman tuli di kampus dan komunitas di Malang,” tutur Sarjana Psikologi, Universitas Brawijaya itu.

Desy mengatakan, untuk menjadi juru bahasa isyarat saat ini belum ada sekolah khusus. Namun demikian, untuk kelas bahasa isyarat sudah ada di Pusat Layanan Juru Bahasa Isyarat Indonesia. Mereka membuka kelas-kelas khusus, seperti kelas isyarat Malang, isyarat Jawa Timur, isyarat Bali, dan Jakarta. Karena berbeda setiap daerah, sehingga dalam menjadi juru bahasa isyarat harus terus belajar dan menyesuaikan dengan karakteristik teman-teman tuli.

“Jadi lebih seperti les dan kebanyakan langsung ketemu sama teman-teman tuli itu yang paling penting, jadi langsung praktik. Tantangan menjadi juru bahasa isyarat, karena teman-teman tuli itu sendiri juga beragam, maka setiap ketemu teman tuli baru kita belajar lagi. Karena pasti ada beberapa isyarat yang pasti beda, sehingga harus menyesuaikan literasi dari teman-teman juga,” jelas Desy yang sehari-hari menjadi juru bahasa isyarat jenis BISINDO.

Desy serta teman-teman tuli dan bisu mengucapkan terima kasih kepada Pemkot Malang yang telah melibatkan mereka dalam menentukan arah pembangunan Kota Malang. Mereka berharap aksesibilitas difabel Kota Malang dapat meningkat, tidak hanya untuk teman-teman tuli, tapi juga tunadaksa, tunanetra, dan lainnya.

“Sehingga disabilitas bisa lebih senang dan nyaman di tempat mereka tinggal serta dapat menikmati pembangunan secara maksimal,” harapnya.

Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji menekankan agar benar-benar merefleksikan pernyataan bahwa ‘Aku Kamu Kita Setara.’ Di mana semua adalah sama-sama makhluk ciptaan Tuhan YME. Menurutnya, semua manusia istimewa dengan caranya masing-masing dan hanya amal perbuatan yang nantinya akan membedakan di mata Sang Pencipta.

“Pemkot Malang terus menguatkan komitmen untuk menerapkan pembangunan yang inklusif. Termasuk melindungi dan mengakomodir aspirasi disabilitas dengan Musrenbang Tematik Disabilitas. Saya berharap dapat terwujud Kota Malang yang inklusi dan ramah disabilitas,” pungkasnya di Hotel Atria, Kota Malang, Kamis (16/2/2022). (eka/ram)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content