Malang, (malangkota.go.id) – Di tangan kreatif Galery Daur Ulang Malang, sampah plastik kemasan dapat disulap menjadi busana cantik dan estetik. Busana hasil daur ulang sampah plastik ini menjadi salah satu karya yang menarik perhatian di Lomba Fotografi, Fesyen, dan Kriya hasil usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Malang.

Busana hasil daur ulang sampah plastik di Lomba Fotografi, Fesyen, dan Kriya hasil usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Malang.

Galery Daur Ulang Malang adalah salah satu UMKM bergerak di bidang konveksi, namun dengan bahan limbah plastik sampah yang di daur ulang. Sehingga bisa menjadi produk yang bisa bernilai jual tinggi. Di samping itu bisa mengurangi limbah sampah dan menciptakan lingkungan yang bersih, serta menciptakan lapangan kerja baru.

Nur Alfiatul Khasanah, Owner Galery Daur Ulang Malang mengungkapkan ide kreasi awalnya berangkat dari adanya sampah yang laku dijual dan ada yang tidak laku dijual. Sehingga untuk jenis sampah yang tidak laku dijual, dimanfaatkan menjadi beragam kerajinan daur ulang.

“Macam-macam, ada tas, dompet dan lain-lain. Salah satunya juga baju daur ulang. Di tempat saya kebetulan, baju daur ulang sudah dijual secara online juga bahkan hingga ke luar kota seperti Sulawesi, Kalimantan dan lainnya. Model yang laris itu rompi-rompi seperti ini,” paparnya sambil menunjukkan baju daur ulang bermodel rompi yang dikenakan untuk lomba foto dan fesyen.

Awalnya ia hanya membuat kreasi tas dan dompet namun yang bertanya sehingga memutuskan untuk mencoba membuat satu baju daur ulang untuk keperluan lomba di sekolah yang berhasil mendapat juara pada saat itu.

“Nah kalau bahan pembuatan busana daur ulang yang diperagakan dalam kegiatan Lomba Fotografi, Fesyen dan Kriya hasil UMKM di Kota Malang ini terbuat dari bungkus kopi. Dulu bahan yang digunakan adalah limbah sampah ‘kresek’ karena mudah didapatkan. Kemudian terus mencoba dan banyak peminatnya. Banyak untuk acara bank sampah, adiwiyata, hari lingkungan dan lainnya,” tambahnya.

Proses awal pembuatannya sekitar dua minggu dari proses pemilahan, pencucian, pengeringan hingga pembuatan yang dikerjakan oleh tiga orang.

“Harapannya kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap masalah sampah bisa semakin meningkat karena saat ini masih banyak yang kurang peduli dengan sampah. Padahal kalau kita peduli sedikit saja, bisa bermanfaat buat kita,” pungkasnya. (eka/ram)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

You may also like