Hukum, Politik, dan Pemerintahan Pendidikan

Buku Spektrum Kota Malang Representasikan Komitmen Ekosistem Literasi Kreatif

Blimbing (malangkota.go.id) – Sembilan penulis menuangkan berbagai sudut pandang pemikiran menarik perjalanan Kota Malang dalam sebuah buku bertajuk Spektrum Kota Malang 2018-2013. Buku hasil kolaborasi sederet pegiat literasi, komunitas, dunia usaha dan Pemerintah Kota Malang ini diluncurkan di Malang Creative Center (MCC) dalam rangkaian Festival Inklusi 2023, Sabtu (20/5/2023).

Wali Kota Malang Sutiaji foto bersama usai lauching dan bedah buku Spektrum Kota Malang 2018-2013

Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji mengungkapkan meskipun Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Malang cukup tinggi yakni mencapai 65,6 persen, namun menurutnya budaya literasi masih sangat perlu ditingkatkan. Oleh karena itulah ia menyambut baik hadirnya buku Spektrum Kota Malang yang dinilai mampu memperkuat ekosistem literasi dan penulisan kreatif di Kota Malang.

“Luar biasa, apresiasi saya sampaikan kepada inisiator, semua penulis dan semua yang ikut menyusun buku ini. Mengapa kami komitmen? Karena harus diakui literasi kita masih perlu ditingkatkan. Maka nanti insyaallaah kita perbanyak untuk di perpustakaan-perpustakaan atau sekolah-sekolah,” jelas Sutiaji.

Pria berkacamata tersebut berharap hadirnya tulisan-tulisan bernas ini tidak hanya mampu menambah literasi, namun juga memantik pemikiran-pemikiran lain dari para penulis dan warga Malang yang semakin memperkaya kolaborasi pembangunan kota.

Wali Kota Malang sangat senang peluncuran buku ini disambut antusias dari sisi kehadiran maupun dialog kritis yang terjadi dalam bedah buku. “Yang namanya ilmu, gagasan tentu tidak statis, namun dinamis. Maka kuncinya adalah ketika literasi kita bertambah, wawasan bertambah, pola pikir berkembang. Ini memang ada sembilan (penulis), bisa jadi ke depan lebih dari itu,” tambahnya.

Apa yang disampaikan Wali Kota Malang diamini Ketua IKAPI Malang, Gedeon Surja. Ia berharap ada seri lanjutan dengan menggandeng penulis-penulis lainnya. “Mereka yang masuk di sini ada budayawan, sastrawan, penulis perempuan, dan akademisi juga. Tentu yang naskahnya siap, kriterianya masuk di kita. Artinya ada proses kurasi,” paparnya.

Sejumlah sudut pandang menarik dapat ditelusuri pada setiap lembar buku setebal 265 halaman yang merangkum dinamika perjalanan pembangunan Kota Malang ini.

Diantaranya tulisan bertajuk tak ada nasi padang di MCC karya Abdul Malik dan Romantisme Kenangan Arsitektur Kayutangan karya Khalyandhara Pramesthi. Juga tulisan Dwi Cahyono yang mengangkat seputar Candi Badut dan peradaban Malang Raya dan Setrum Arsitektur Kota tulisan dari Haris Wibisono.

Tak ketinggalan, dalam buku ini juga hadir tulisan karya Ari Ambarwati, Arief ‘Sam Hison’ Wibisono, Bagus Ary Wicaksono, Bambang A.W dan Wahyu Eko Setiawan yang tentunya sangat sayang dilewatkan. (ndu/yon)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like

Skip to content